VALENTINE’S DAY
Sarah menatap nanar kertas yang ada di tangannya.Pikirannya seketika
bercampur aduk, valentine’s day celebration, huh…… nafas berat kembali ia
hembuskan.Ia kembali menekuri kertas beramplop merah muda yang tak juga lepas
dari genggamannya, kertas merah muda yang ia dapatkan dari Chelsea teman sesekolahnya.
‘Andai saja pagi itu Dea berangkat, pasti akan kubahas pagi itu
juga. Sayangnya Dea tak berangkat’, pikir Sarah. Ia masih ingat bagaimana
peristiwa itu terjadi tadi siang di kelas.
* * *
Ruang kelas masih ribut sebagian ada yang masih membahas pelajaran
pak Qodri, bahasa indonesia yang sebelumnya mereka dapatkan. Sebagian lagi ada
yang mengobrol ngalor ngidul. Tiba-tiba Chelsea ,
siswi kelas XI ipa 2 menarik perhatian anak sekelas.
“Hai temen-temen, masih ingat kan
minggu depan tanggal berapa?” tanya Chelsea seketika.
Ada yang langsung konek terus
menjawab,”14 februari, valentine’s day” teriak yang lain bersautan.
”Yup, bener banget, juga yang
perlu kalian garis bawahi, tanggal 14 februari bertepatan hari jadi gue, so....
gue undang kalian semua buat dateng ke acara pesta ultah gue, intinya
valentine’s day tahun ini wajib di rayakan,key!”
Disamping Chelsea ada Lea dan
Fasya, bagai dikomando mereka segera beranjak untuk membagi-bagikan kertas
undangan dengan amplop berwarna merah muda itu pada siswa sekelas.Saat tepat
berada di depan Sarah Fasya pun mengembangkan senyumnya pada gadis berjilbab
itu sembari berkata
”Jangan lupa dateng ya... Sar, di
jamin betah deh!” Sedangkan Sarah hanya membalas dengan senyum tipisnya,
kemudian Fasya beralih pada yang lain.
*
* *
Angan tentang kebimbangan
keputusan untuk peristiwa siang tadi masih memadati otak Sarah. Sayangnya, mba
Rina , kakak tercinta tempat curahan hatinya belum pulang.Dan rencananya kalau
mba Rina nanti pulang, Sarah akan langsung bertanya pada kakaknya tentang
masalah valentine’s day celebration yang terus membuat pusing kepalanya.
* * *
Pagi begitu cerah, matahari dari
arah timur pun mulai menampakkan senyumannya.Disertai terik sinarnya yang mulai
menghangatkan tubuh manusia.
Pagi itu, mading kelas dan mading
utama sekolah menjadi sorotan utama siswa SMAN 02 Cendekiawan saat pertam masuk
sekolah.
”Jadi valentine’ day itu awalnya
dari nama seorang uskup yang bernama St. Valentine” ucap Icha mengulangi
statemen pada artikel yang terpasang di mading.
”The St.Valentine who is spoken of
as the apostle of Rhatea an venetared in
Passau as its first bishop, St. Valentine yang di sebutkan itu adalah seorang
utusan dari Rhatea yang di muliakan di Passau sebagai uskup yang pertama”
mata-mata kembali mengarah pada artikel tersebut.
”Dan tujuan dari perayaan hari
valentine yang biasa orang kenal dengan sebutan hari kasih sayang itu untuk
menghormati dan mengkultuskan seorang uskup yang bernama St. Valentine yang di
anggap sebagai martir yang mati di bunuh pada tanggal 14 februari 269 masehi”
timpal Ayu.
”Terakhir yang lebih penting
adalah bila perayaan hari valentine tersebut dikaitkan dengan upacara
lupercalia, maka ini semua sangat bertentangan dengan syariat islam bahkan
penuh dengan kesyirikan yang dapat merusak ketauhidan dan iman kita” saut Ahdi
salah satu anggota rohis yang saat itu ikut nimbrung untuk membaca artikel.
”Jadi selama ini............”
”Iya juga ya, terus gimana dengan
undangan Chelsea tentang perayaan malam valentine yang wajib di rayakan itu?”
ucap Alisha dengan nada tanya
”Duh jadi bingung nich” celetuk
lainnya
”Aku juga, apa kita nggak usah
dateng aja ya” timpal Sasha akhirnya.
* * *
’BRAK’ suara bantingan pintu
terdengar menggema dari dalam toilet.
”Jawab pertanyaan gue! loe kan
yang nulis artikel tentang valentine’s day di mading sekolah iya, kan?” bentak
Chelsea tajam dengan sorot mata tetap tertuju pada gadis berkerudung yang tak
lain adalah Sarah.
”Jawab!” Lea menimpali dengan nada
sama
”Loe nggak bisa ngelak lagi Sar,
karena jelas-jelas di artikel itu tertulis literature
lover’S’ , loe kira anak sesekolahan nggak tau itu kan nama pena loe”
”So, kita tau kalau loe adalah
orang yang jadi biang kerok and provokator buat matahin semangat yang lain
untuk dateng ke acara ultah gue, ya kan?” jelas Chelsea panjang lebar atau
lebih spesifiknya di iringi dengan pertanyaan.
”Udah selesai kalian ngomongnya?”
Sarah balik tanya
”Eh nggak usah banyak cincong deh!
disini loe itu sendirian tau” potong Lea tak mau kalah
”Jawab!” lanjut Lea
”Aku musti jawab apa, toh kalian
udah tau sendiri kan jawabannya?” Sarah menjawab dengan nada bergetar, entahlah
mungkin ia sendiri sedikt gentar karena bentakan sana sini yang di lontarkan
Chelsea cs kepadanya.
”Oh.... baguslah, ternyata loe
cukup pemberani juga buat ngakuin itu semua” timpal Fasya, Sarah tetap
bergeming dengan wajah tenang.
”Maksud loe apa sich? it’s ok lah
kalau misalnya loe nggak mau dateng tapi nggak usah dech pake acara ngajakin
yang lain, pake nampangin artikel ultimatum segala, norak tau!” rutuk Chelsea
panjang lebar.
”Bukannya gitu Chel, aku Cuma mau
nunjukin yang bener aja kok” bela Sarah
”Jadi menurut loe kita-kita itu
salah, iya? alah sok alim loe” semprot Fasya
’CEKLEK’ pintu toilet terbuka oleh
sebuah tangan
”Dea?” saut Chelsea dan Lea hampir
bersamaan
”Sarah! ada apa ini? kamu nggak
apa-apa kan Sar?”
”Nggak apa-apa kok santai aja”
jawab Sarah
”Ke kelas yuk! pak Said udah masuk
lho” ajak Dea, Sarah pun memenuhi ajakan Dea, sementara Chelsea cs hanya
terpaku di dalam toilet.
* * *
Jarum jam terus berdetak tiap
detiknya,mengusik ketenangan sebuah kamar. Di temani lampu temaram yang terus
membisu. Kertas-kertas berisi dokumen penting berserakan di atas tempat tidur.
Terlihat 2 orang gadis sedang berkutat di depan komputer.
”Dea tolong ambilkan kertas isi
anggaran dong! itu tuh yang di dekat selimut” pinta Sarah.
Ya, malam itu atau tepatnya malam
14 februari, Sarah lebih memilih menginap di rumah Dea untuk menyelesaikan
pembuatan proposal PHBI maulid Nabi SAW yang sebentar lagi akan di
selenggarakan di sekolahnya dari pada datang ke pesta ultah Chelsea plus
perayaan malam valentine.Terlihat 2 gadis tersebut masih saja berkonsentrasi di
depan mesin penyimpan dan pengolah kata.
Malam semakin beranjak larut,
cahaya bulan pun semakin surut ke arah barat dan angin malam juga tak mau kalah
mendesakkan tubuhnya untuk masuk ke setiap ruas-ruas ventilasi jendela rumah.
”Hua...hh” mereka menguap hampir
bersamaan.
* * *
Esoknya SMAN 02 Cendekiawan geger,
semalam ditemukan 2 gadis sudah tidak
bernyawa dan seorang gadis overdosis di dalam mobil dan masih mengenakan
seragam sekolahnya. Setelah di visum dalam tubuh mayat tersebut mengandung
alkohol. Di dalam mobilnya pun di temukan 2 bungkus pil ekstasi. Dua siswi tersebut
tak lain adalah Chelsea dan Lea,
sementara korban overdosis itu tak lain adalah Fasya.
”Sarah.. Sarah” seseorang memanggil-manggil
gadis jilbaber yang sedang asyik berjalan menuju kantin, gadis pemilik nama
tersebut pun menolehkan wajahnya. Matanya mendapati sosok Via teman satu
kelasnya dengan afas naik turun
”Kenapa Vi? Kok gugup gitu?”
”Gawat Sar, sweer gawat bener”
”Ya.... emang gawat apaan? Yang
jelas dong!!” desak Sarah
”Chelsea and Lea meninggal karena
make narkoba tadi malem”
”Innalillahi wa inna ilaihi
roji’un”
”Trus Fasya sekarang ada di rumah
sakit karena overdosis akut” Via menyebutkan salah satu Rumah Sakit terkenal di
ibukota itu.
”Kalau gitu gimana kalau pulang
sekolah kita nengok Fasya” usul Sarah
”Apa? Nengokin Fasya? Kamu gak
demam kan? Hmmm... hatimu kok baik banget sih, inget gak? Mereka kan sering
banget nyakitin kamu masa kita musti...”
”Udahlah Via, dia juga kan teman
kita so.. why not? Kalau toh dia emang sering nyakitin aku, ngapain juga aku
musti dendam? Nggak baik Vi!!! Jadi gimana bisa kan pulang sekolah kita nengok
Fasya?”
”Aku ngikut kamu aja deh”
Sarah tersenyum simpul
”Oh iya.. Sar, ngajakin Dea juga
yuk!” usul Via, Sarah menganggukkan kepalanya ringan.
* * *
”Makasih ya... temen-temen, kalian udah baik
banget sama aku, aku ngerasa bersalah banget kalau inget sikap ku selama ini, terutama sama kamu Sarah, maafin aku ya! Kamu mau kan?” air
mata Fasya berlinang
”Udahlah Sya, yang lalu biarlah
berlalu, waktu itu kamu belum di kasih hidayah aja oleh Allah.Mulai sekarang
bukalah lembaran baru untuk jadi muslimah yang lebih baik”
”Iya Sar, aku nyesel banget,
dosaku udah banyak banget, apakah Allah akan mengampuniku?”
”Sssttt... jangan bilang gitu,
Allah itu Maha Pengampun pada hamba-Nya”
Sebuah kristal mutiara jatuh meleleh di pipi
Fasya,, dan kami berempat pun berpelukan. Kurasakan pancar mata yang berbeda,,
terima kasih ya Robb... semoga hidayah-Mu selalu menaungi kami. Amien.
***
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar