Senin, 14 November 2011

valentine day

VALENTINE’S DAY
           
Sarah menatap nanar kertas yang ada di tangannya.Pikirannya seketika bercampur aduk, valentine’s day celebration, huh…… nafas berat kembali ia hembuskan.Ia kembali menekuri kertas beramplop merah muda yang tak juga lepas dari genggamannya, kertas merah muda yang ia dapatkan dari Chelsea teman sesekolahnya.
‘Andai saja pagi itu Dea berangkat, pasti akan kubahas pagi itu juga. Sayangnya Dea tak berangkat’, pikir Sarah. Ia masih ingat bagaimana peristiwa itu terjadi tadi siang di kelas.

*          *          *

Ruang kelas masih ribut sebagian ada yang masih membahas pelajaran pak Qodri, bahasa indonesia yang sebelumnya mereka dapatkan. Sebagian lagi ada yang mengobrol ngalor ngidul. Tiba-tiba Chelsea, siswi kelas XI ipa 2 menarik perhatian anak sekelas.
“Hai temen-temen, masih ingat kan minggu depan tanggal berapa?” tanya Chelsea seketika.
Ada yang langsung konek terus menjawab,”14 februari, valentine’s day” teriak yang lain bersautan.
”Yup, bener banget, juga yang perlu kalian garis bawahi, tanggal 14 februari bertepatan hari jadi gue, so.... gue undang kalian semua buat dateng ke acara pesta ultah gue, intinya valentine’s day tahun ini wajib di rayakan,key!”
Disamping Chelsea ada Lea dan Fasya, bagai dikomando mereka segera beranjak untuk membagi-bagikan kertas undangan dengan amplop berwarna merah muda itu pada siswa sekelas.Saat tepat berada di depan Sarah Fasya pun mengembangkan senyumnya pada gadis berjilbab itu sembari berkata
”Jangan lupa dateng ya... Sar, di jamin betah deh!” Sedangkan Sarah hanya membalas dengan senyum tipisnya, kemudian Fasya beralih pada yang lain.

*        *       *
   
Angan tentang kebimbangan keputusan untuk peristiwa siang tadi masih memadati otak Sarah. Sayangnya, mba Rina , kakak tercinta tempat curahan hatinya belum pulang.Dan rencananya kalau mba Rina nanti pulang, Sarah akan langsung bertanya pada kakaknya tentang masalah valentine’s day celebration yang terus membuat pusing kepalanya.

*         *        *

Pagi begitu cerah, matahari dari arah timur pun mulai menampakkan senyumannya.Disertai terik sinarnya yang mulai menghangatkan tubuh manusia.
Pagi itu, mading kelas dan mading utama sekolah menjadi sorotan utama siswa SMAN 02 Cendekiawan saat pertam masuk sekolah.
”Jadi valentine’ day itu awalnya dari nama seorang uskup yang bernama St. Valentine” ucap Icha mengulangi statemen pada artikel yang terpasang di mading.
”The St.Valentine who is spoken of as the apostle of  Rhatea an venetared in Passau as its first bishop, St. Valentine yang di sebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhatea yang di muliakan di Passau sebagai uskup yang pertama” mata-mata kembali mengarah pada artikel tersebut.
”Dan tujuan dari perayaan hari valentine yang biasa orang kenal dengan sebutan hari kasih sayang itu untuk menghormati dan mengkultuskan seorang uskup yang bernama St. Valentine yang di anggap sebagai martir yang mati di bunuh pada tanggal 14 februari 269 masehi” timpal Ayu.
”Terakhir yang lebih penting adalah bila perayaan hari valentine tersebut dikaitkan dengan upacara lupercalia, maka ini semua sangat bertentangan dengan syariat islam bahkan penuh dengan kesyirikan yang dapat merusak ketauhidan dan iman kita” saut Ahdi salah satu anggota rohis yang saat itu ikut nimbrung untuk membaca artikel.
”Jadi selama ini............”
”Iya juga ya, terus gimana dengan undangan Chelsea tentang perayaan malam valentine yang wajib di rayakan itu?” ucap Alisha dengan nada tanya
”Duh jadi bingung nich” celetuk lainnya
”Aku juga, apa kita nggak usah dateng aja ya” timpal Sasha akhirnya.

*          *         *

’BRAK’ suara bantingan pintu terdengar menggema dari dalam toilet.
”Jawab pertanyaan gue! loe kan yang nulis artikel tentang valentine’s day di mading sekolah iya, kan?” bentak Chelsea tajam dengan sorot mata tetap tertuju pada gadis berkerudung yang tak lain adalah Sarah.
”Jawab!” Lea menimpali dengan nada sama
”Loe nggak bisa ngelak lagi Sar, karena jelas-jelas di artikel itu tertulis literature lover’S’ , loe kira anak sesekolahan nggak tau itu kan nama pena loe”
”So, kita tau kalau loe adalah orang yang jadi biang kerok and provokator buat matahin semangat yang lain untuk dateng ke acara ultah gue, ya kan?” jelas Chelsea panjang lebar atau lebih spesifiknya di iringi dengan pertanyaan.
”Udah selesai kalian ngomongnya?” Sarah balik tanya
”Eh nggak usah banyak cincong deh! disini loe itu sendirian tau” potong Lea tak mau kalah
”Jawab!” lanjut Lea
”Aku musti jawab apa, toh kalian udah tau sendiri kan jawabannya?” Sarah menjawab dengan nada bergetar, entahlah mungkin ia sendiri sedikt gentar karena bentakan sana sini yang di lontarkan Chelsea cs kepadanya.
”Oh.... baguslah, ternyata loe cukup pemberani juga buat ngakuin itu semua” timpal Fasya, Sarah tetap bergeming dengan wajah tenang.
”Maksud loe apa sich? it’s ok lah kalau misalnya loe nggak mau dateng tapi nggak usah dech pake acara ngajakin yang lain, pake nampangin artikel ultimatum segala, norak tau!” rutuk Chelsea panjang lebar.
”Bukannya gitu Chel, aku Cuma mau nunjukin yang bener aja kok” bela Sarah
”Jadi menurut loe kita-kita itu salah, iya? alah sok alim loe” semprot Fasya
’CEKLEK’ pintu toilet terbuka oleh sebuah tangan
”Dea?” saut Chelsea dan Lea hampir bersamaan
”Sarah! ada apa ini? kamu nggak apa-apa kan Sar?”
”Nggak apa-apa kok santai aja” jawab Sarah
”Ke kelas yuk! pak Said udah masuk lho” ajak Dea, Sarah pun memenuhi ajakan Dea, sementara Chelsea cs hanya terpaku di dalam toilet.

*          *          *

Jarum jam terus berdetak tiap detiknya,mengusik ketenangan sebuah kamar. Di temani lampu temaram yang terus membisu. Kertas-kertas berisi dokumen penting berserakan di atas tempat tidur. Terlihat 2 orang gadis sedang berkutat di depan komputer.
”Dea tolong ambilkan kertas isi anggaran dong! itu tuh yang di dekat selimut” pinta Sarah.
Ya, malam itu atau tepatnya malam 14 februari, Sarah lebih memilih menginap di rumah Dea untuk menyelesaikan pembuatan proposal PHBI maulid Nabi SAW yang sebentar lagi akan di selenggarakan di sekolahnya dari pada datang ke pesta ultah Chelsea plus perayaan malam valentine.Terlihat 2 gadis tersebut masih saja berkonsentrasi di depan mesin penyimpan dan pengolah kata.
Malam semakin beranjak larut, cahaya bulan pun semakin surut ke arah barat dan angin malam juga tak mau kalah mendesakkan tubuhnya untuk masuk ke setiap ruas-ruas ventilasi jendela rumah.
”Hua...hh” mereka menguap hampir bersamaan.

*          *          *

Esoknya SMAN 02 Cendekiawan geger, semalam ditemukan 2 gadis  sudah tidak bernyawa dan seorang gadis overdosis di dalam mobil dan masih mengenakan seragam sekolahnya. Setelah di visum dalam tubuh mayat tersebut mengandung alkohol. Di dalam mobilnya pun di temukan 2 bungkus pil ekstasi. Dua siswi tersebut tak lain adalah Chelsea dan  Lea, sementara korban overdosis itu tak lain adalah Fasya.
”Sarah.. Sarah” seseorang memanggil-manggil gadis jilbaber yang sedang asyik berjalan menuju kantin, gadis pemilik nama tersebut pun menolehkan wajahnya. Matanya mendapati sosok Via teman satu kelasnya dengan afas naik turun
”Kenapa Vi? Kok gugup gitu?”
”Gawat Sar, sweer gawat bener”
”Ya.... emang gawat apaan? Yang jelas dong!!” desak Sarah
”Chelsea and Lea meninggal karena make narkoba tadi malem”
”Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”
”Trus Fasya sekarang ada di rumah sakit karena overdosis akut” Via menyebutkan salah satu Rumah Sakit terkenal di ibukota itu.
”Kalau gitu gimana kalau pulang sekolah kita nengok Fasya” usul Sarah
”Apa? Nengokin Fasya? Kamu gak demam kan? Hmmm... hatimu kok baik banget sih, inget gak? Mereka kan sering banget nyakitin kamu masa kita musti...”
”Udahlah Via, dia juga kan teman kita so.. why not? Kalau toh dia emang sering nyakitin aku, ngapain juga aku musti dendam? Nggak baik Vi!!! Jadi gimana bisa kan pulang sekolah kita nengok Fasya?”
”Aku ngikut kamu aja deh”
Sarah tersenyum simpul
”Oh iya.. Sar, ngajakin Dea juga yuk!” usul Via, Sarah menganggukkan kepalanya ringan.
*         *         *

 ”Makasih ya... temen-temen, kalian udah baik banget sama aku, aku ngerasa bersalah banget kalau inget sikap ku selama ini, terutama sama kamu Sarah, maafin aku ya! Kamu mau kan?” air mata Fasya berlinang
”Udahlah Sya, yang lalu biarlah berlalu, waktu itu kamu belum di kasih hidayah aja oleh Allah.Mulai sekarang bukalah lembaran baru untuk jadi muslimah yang lebih baik”
”Iya Sar, aku nyesel banget, dosaku udah banyak banget, apakah Allah akan mengampuniku?”
”Sssttt... jangan bilang gitu, Allah itu Maha Pengampun pada hamba-Nya”
Sebuah kristal mutiara jatuh meleleh di pipi Fasya,, dan kami berempat pun berpelukan. Kurasakan pancar mata yang berbeda,, terima kasih ya Robb... semoga hidayah-Mu selalu menaungi kami. Amien.

***
SEKIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar