MY BRONIES……
Senja sengkala terus meledekku. Mengintaiku yang
selau di selimuti rasa gamang itu.Rasa yang membuatku canggung dengan
sendirinya. Rasa yang membuat darahku mengalir semakin deras, jantungku
berdetak semakin kencang dan pipiku yang memanas acapkali melihat
wajahnya. Perasaan ragu selalu mendera
hatiku. Akankah Angga punya perasaan yang sama denganku. Aku tidak mengenal
baik Angga. Aku setahun lebih tua darinya. Status sosial keluargaku dan
keluarga Angga bagaikan langit dan bumi. Ayah Angga seorang pengusaha sukses
dan ibunya seorang guru. Sedangkan keluargaku adalah keluarga termiskin. Ayah
tiada sejak aku masih kelas 1 SD. Ibuku kemudian berjualan kue-kue untuk
menghidupi kami yang sehari hanya menghasilkan uang sekitar limabelasan ribu.
Aku juga sering membantu menjualkan kue-kue ibuku ke sekolah. Namun semua itu
belum cukup untuk membiayai ibu dan kami, empat bersaudara. Aku sendiri pernah
diusir dari kelas karena belum membayar uang bulanan sekolah selama tiga bulan.
Karena kondisi itu aku menjadi seorang yang pendiam dan rendah diri.
Kemarin tanpa sengaja aku bertemu dengan Fandi
ketika pulang sekolah. Fandi adalah sahabat Angga sejak SD. Jika Angga adalah
seorang yang pendiam, Fandi seorang cowok yang supel. Hampir semua orang
mengenalnya. Dengan senang hati Fandi menawarkan boncengan motornya dan
mengantarkanku sampai rumah. Di jalan Fandi bercerita:
“Mbak, kemarin Angga cerita kalau dia sebenarnya naksir sama cewek di desa kita juga ini lho,” cerita Fandi memanggilku dengan embel-embel Mbak, tradisi di desa kami untuk menghormati orang yang usianya lebih tua.
”Yang bener aja, Fan? Emangnya siapa?” “Tak tahu juga mbak, Angga tak sebut nama,” “Iyakah? Tapi di desa kita ini ‘kan banyak ceweknya?”.
“Mbak, kemarin Angga cerita kalau dia sebenarnya naksir sama cewek di desa kita juga ini lho,” cerita Fandi memanggilku dengan embel-embel Mbak, tradisi di desa kami untuk menghormati orang yang usianya lebih tua.
”Yang bener aja, Fan? Emangnya siapa?” “Tak tahu juga mbak, Angga tak sebut nama,” “Iyakah? Tapi di desa kita ini ‘kan banyak ceweknya?”.
“Iya juga ya mbak, and….kira kira siapa ya?
Hayooo siapa………..?”
“Ooi oi siapa dia oh siapa dia,” Fandi malah menyanyi seperti pembawa acara Kuis Siapa Dia di TVRI waktu kami kecil dulu.
“Ooi oi siapa dia oh siapa dia,” Fandi malah menyanyi seperti pembawa acara Kuis Siapa Dia di TVRI waktu kami kecil dulu.
Aku hanya bisa tersenyum kecil, namun tak urung
percakapan tadi membuat aku punya harapan. Tapi, ah tak mungkin masih banyak
teman-temanku yang lebih pantas untuk dijatuhin cinta sama Angga. Meski kami
satu sekolah tapi di sekolah pun aku hanya bisa menatap Angga dari jauh, ketika
tanpa sengaja aku bertemu dengan Angga di kantin, di perpustakaan atau ketika
sama-sama nonton pertandigan olahraga di lapangan sekolah, Angga tak pernah
berusaha menyapaku. Kalau aku menyapa Angga duluan, tengsin ah. Aku masih
berharap Angga yang memulainya.
Hari sudah beranjak sore, ketika kudengar suara
sepeda motor berhenti di depan rumah. Segera kubuka pintu setelah terdengar
ketukan. Ternyata Fandi dan….Angga. Fandi mau meminjam soal-soal ulangan
umum sekolah. Kukernyitkan dahiku, aku heran, untuk apa bukankah dia lain
sekolah denganku?.
“Ehm….tenang mbak, tenang. Bukan untuk aku ko,
Mbak. Itu tu untuk Angga,” kata Fandi seperti mengetahui keherananku.
Kenapa sih tak mau bilang sendiri, toh udah di sini. Batinku agak kesal.
“Boleh kan Mbak, Mbak Dewi yang baik…?” Aku
melirik Angga yang hanya tersenyum tipis. Aku segera masuk rumah, dan mengambil
lembaran soal-soal ulangan umum yang selalu kusimpan rapi tiap semesternya.
Ketika kuberikan lembaran-lembaran itu, kubilang sama Fandi agar nanti Angga
yang mengembalikan sendiri. Fandi hanya mengangguk.
****
Siang itu, ketika aku sedang ngobrol dengan
temanku di halte, tiba-tiba …gedubrak….. terdengar suara seperti tabrakan. Kami
terkejut, terlihat seorang pengendara motor yang nampak kesakitan jatuh
terlempar beberapa senti dari motornya. Aku dan temanku segera menghampirinya.
Orang-orang pun segera berhamburan menengoknya. Seketika jalan menjadi macet
total. Beberapa orang segera mengangkat tubuh yang kesakitan itu ke halte.
Kulihat darah keluar dari pelipis kanan dan siku tangan kanannya, dan ternyata
dia adalah Angga. Namun tak lama polisi datang membubarkan kerumunan dan segera
membawa Angga ke rumah sakit terdekat. Aku dan temanku menemaninya tanpa
diminta.
Sesampainya di rumah sakit, Angga dibawa ke
ruang gawat darurat. Polisi meminta sedikit informasi mengenai Angga. Aku
mengatakan Angga adalah tetanggaku dan segera memberikan alamatnya. Polisi akan
segera menghubungi pihak keluarga Angga. Lima menit kemudian temanku meminta
pamit karena sudah terlambat pulang. Meski aku keberatan, kuanggukkan juga
kepalaku.
Satu jam kemudian Angga di bawa ke ruang
perawatan. Ruang itu terdiri dari empat tempat tidur ditata berjajar yang hanya
dipisahkan oleh tirai putih. Angga mendapatkan tempat di dekat jendela. Kulihat
Angga masih tertidur ketika perawat meninggalkan kami. Kamar ini hanya berisi
aku dan Angga. Aku duduk di ranjang pasien sebelah tempat tidur Angga. Kutatap
wajah Angga yang bagian pipinya masih lebam, pelipis dan tangannya dibalut
perban, baju seragamnya telah berganti baju seragam rumah sakit. Kulirik jam
tangan Angga, sudah hampir pukul 3 sore. Ke mana ya keluarga Angga, batinku.
Aku turun dikursi dan kutelungkupkan kepalaku di ranjang. Di ruangan AC begini
aku merasa ngantuk sekali.
Aku terkejut ketika perawat masuk membawakan
obat untuk Angga, segera kuusap mukaku dan sedikit kurapikan rambutku. Kutengok
Angga sudah terbangun, dan segera meminum obat yang dibawa perawat itu. Perawat
kembali pergi setelah kuucapkan terimakasih kepadanya. Kami sama-sama
saling terdiam tak tahu harus berkata apa. Beberapa menit berlalu, kucoba
memecahkan kekakuan ini.
”Dit, gimana rasanya, apa sudah baikan?” tanyaku
lirih, agak salah tingkah sambil kusandarkan badanku ke dinding jendela.
“Lumayan Mbak, Mbak dari tadi nungguin aku ya?” tanya Angga lemah.
Aku hanya mengangguk. Kami sama sama terdiam lagi, meski aku sangat senang berada di sini bersama Angga, tapi rasanya lidah ini kaku untuk mengajaknya bicara.
Aku hanya mengangguk. Kami sama sama terdiam lagi, meski aku sangat senang berada di sini bersama Angga, tapi rasanya lidah ini kaku untuk mengajaknya bicara.
“Oya, ke mana Ibu Angga ya, kok sampai sekarang
belum datang juga. Tadi polisi menjemput ke rumahmu lho?” tanyaku sambil
memainkan kakiku dengan sesekali menatap kepada Angga.
“Mungkin di rumah tak ada orang, Mbak. Ibu
setiap hari ada jadwal kuliah. Biasanya sih pulang jam setengah enam. Adikku
juga les bahasa Inggris. Paling Mbok Warti yang biasa bantu kami bersih-bersih
rumah,” jawab Angga dengan lemah sambil memalingkan wajahnya sedikit ke arahku.
Aku hanya bisa mengangguk-angguk dan kembali terdiam.
Ketika senja sudah beranjak pergi, kudengar langkah tergesa memasuki kamar. Ayah dan ibu Angga yang kelihatan sangat mencemaskan Angga, segera menghampirinya yang terbaring lemah. Baru setelah itu ibu menoleh kepadaku dan mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang Fandi datang dengan kecemasan juga, Fandi tersenyum padaku sebelum menyapa Angga. Wah untung ada Fandi, bisa minta tolong nganterin aku pulang. Aku sudah capek dan lapar, dan pasti ibu juga khawatir banget aku telat pulangnya. Segera kuberbisik pada Fandi untuk mengantarku pulang. Dan ternyata Fandi mengiyakannya. Aku segera berpamitan pada ayah ibu yang tak henti mengucapkan terimakasih kepadaku karena sudah menemani Angga, begitu juga Angga dengan diiringi senyum manisnya.
Ketika senja sudah beranjak pergi, kudengar langkah tergesa memasuki kamar. Ayah dan ibu Angga yang kelihatan sangat mencemaskan Angga, segera menghampirinya yang terbaring lemah. Baru setelah itu ibu menoleh kepadaku dan mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang Fandi datang dengan kecemasan juga, Fandi tersenyum padaku sebelum menyapa Angga. Wah untung ada Fandi, bisa minta tolong nganterin aku pulang. Aku sudah capek dan lapar, dan pasti ibu juga khawatir banget aku telat pulangnya. Segera kuberbisik pada Fandi untuk mengantarku pulang. Dan ternyata Fandi mengiyakannya. Aku segera berpamitan pada ayah ibu yang tak henti mengucapkan terimakasih kepadaku karena sudah menemani Angga, begitu juga Angga dengan diiringi senyum manisnya.
***
Seminggu berlalu sejak peristiwa kecelakaan itu, di suatu sore ketika aku sedang memarut kelapa di dapur bersama ibu, terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah. Aku segera keluar setelah mendengar pintu rumahku diketuk. Angga, dia memberikan kue tart coklat yang cantik yang biasanya hanya bisa kutengok di etalase toko roti, sebagai rasa terimakasih dari keluarganya. Kata Angga, itu bikinan ibunya. Satu lagi, dia mengembalikan soal-soal ulangan umum yang dulu pernah dipinjamnya bersama Fandi.
“Mbak ini sesuai janji Fandi, kalau aku yang
akan mengembalikannya sendiri,” kata Angga sambil menyodorkan soal-soal ulangan
umum itu dan menatapku penuh arti. Aku salah tingkah, seumur-umur aku belum
pernah ditatap orang seperti itu. Tatapan yang membuat aku besar kepala. Tapi Angga
langsung berpamitan. Dan ketika akan kuletakkan kumpulan lembaran soal-soal itu
sebuah kertas berlipat jatuh dari sela-selanya, mungkin punya Angga yang
terselip di lembaran ini. Segera kuambil dan kubuka, kubaca tulisan di
dalamnya:
To : Mbak Dewi
Mbak, Angga suka sama Mbak. Rasa ini sudah lama Angga simpan. Bagaimanakah perasaan Mbak pada Angga. Maaf ya Mbak?
From : Angga
Mbak, Angga suka sama Mbak. Rasa ini sudah lama Angga simpan. Bagaimanakah perasaan Mbak pada Angga. Maaf ya Mbak?
From : Angga
The End
(XII
IPA 4)
Nb: Untuk seorang ukhty yang menangis malam itu, jangan biarkan cintamu
hanyut selain kepada-Nya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar