Ketika
ibu bertanya padaku,
Nak,
sudah benarkah pilihan cintamu?
Kujawab
dengan hati yang tegar tetapi sendu
Benar
itu, telah kupilih tumpahan hatiku
Walau
kata pengabdian pada masa ini terasa semu
Namun
hatiku telah terpateri tekadku
Hanya ini
yang kubuktikan sebagi balas budiku
Atas
jerih payah serta curahkan kasih sayang bundaku
Dan bila
sang suami bertanya lembut penuh rayu
Sayangku,
sanggupkah engkau bagi waktuku?
Akhirnya tugas dan tanggung
jawab yang penuh liku
Serta cinta, kasih dan
bakti pada diriku
Maka jawabku
kadang bercampur ragu
Oh suamiku,
Tuhanlah yang Maha Tahu
Betapa besar
nikmat dan karunia atasku
Karya, bakti dan
cipta ku bias terpadu
Dan lemahlah
akhirnya sendi tulang ku
Bila datang si
kecil anak ku marajuk rayu
Ibu, adakah
tersisa waktu untuk ku?
Aku ingin
bercanda, memanja dan mengadu
Oh anakku, kau
adalah tumpuan harapan ayah ibunda mu
Ku dambakan kau
kelak jadi pemimpin negara dan bangsa ku
Untuk itu, ibu
rela korbankan sisa cinta ku
Demi cinta, bakti
dan masa depan tanah air ku
Cirebon,
22 Desember 2011
Atas
nama
Aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar