Selasa, 03 Januari 2012


PEMANFAATAN ENZIM BROMELAIN PADA LIMBAH
KULIT NANAS (Ananas comosus (L.)Merr)
SEBAGAI ALTERNATIF OBAT LUKA LUAR
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Description: Beschreibung: G:\STIKES\logo stikes cirebon.jpg




Disusun oleh :
Devi Oktaviani                                   4501.0311.A.006
Devi Yulia                                            4501.0311.A.007
Irma Syahidatul Fitriyah                   4501.0311.A.044
Levi Sahara                                         4501.0311.A.016
Melisa Sumalenda                               4501.0311.A.017
Naipah                                                 4501.0311.A.018
Nely Istiqomah                                    4501.0311.A.021
Rika Rosdiana                                    4501.0311.A.031
Wiwi Windayani                                 4501.0311.A.041
Wiwin Widianingsih                           4501.0311.A.042

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat & hidayah-Nya sehingga karya tulis ilmiah dengan judul Pemanfaatan Enzim Bromelain pada Limbah Kulit Nanas (Ananas comosus (l.)Merr) Sebagai Alternatif Obat Luka Luarselesai tepat pada waktunya. Sholawat dan salam semoga terlimpah keharibaan beliau Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan cahaya islam.
Penyusunan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Karya tulis ilmiah ini dapat penyusun selesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, dalam kesempatan yang baik ini, penyusun menyampaikan terima kasih kepada:
1.        Kedua orang tua kami yang telah memberi dorongan sekaligus membantu dalam proses penyelesaian karya tulis ilmiah ini baik secara moriil maupun materil.
2.        Moh. Sadli, SKM, MM.Kes. sebagai ketua STIKes Cirebon.
3.        Nova Lusiana, S.ST, M. Keb. Sebagai ketua program studi D III Kebidanan STIKes Cirebon.
4.        Drs. Agus Satori sebagai pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia.
5.        Semua rekan-rekan yang telah membantu penyusun dalam mengumpulkan data.
Kami menyadari bahwasanya karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan yang disebabkan terbatasnya kemampuan Kami, untuk itu Kami mengharapkan kritik & saran yang bersifat konstruktif sehingga dapat menyempurnakan karya tulis ilmiah ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.     

Cirebon,   Desember 2011

Penyusun,     




DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................... ii
Abstrak...................................................................................................................... iv

BAB I. PENDAHULUAN....................................................................................... 1
  1. Latar belakang............................................................................................... 1
  2. Rumusan masalah.......................................................................................... 2
  3. Tujuan penelitian............................................................................................ 2
  4. Hipotesa penelitian........................................................................................ 3
  5. Manfaat penelitian......................................................................................... 3

BAB II. KAJIAN TEORI......................................................................................... 4
  1. Nanas............................................................................................................. 4
  2. Luka........................................................................................................... 23

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN…........................................................... 39
A.. Waktu dan Lokasi Penelitian......................................................................... 39
B.. Sampel Penelitian........................................................................................... 39
C.. Prosedur Penelitian........................................................................................ 39
D.. Alat dan Bahan….......................................................................................... 40
E... Cara Kerja...................................................................................................... 40

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................................... 42
  1. Ekrtrak atau penumbukan.............................................................................. 42
  2. Enzim Bromelain pada Kulit Nanas Dapat Mengobati Luka........................ 42
  3. Jangka Waktu Penyembuhan......................................................................... 42
  4. Variasi yang Paling Cepat Masa Penyembuhan............................................. 42

BAB V. PENUTUP….............................................................................................. 44
  1. Kesimpulan…................................................................................................ 44
  2. Saran….......................................................................................................... 44

Daftar Pustaka........................................................................................................... 45







































PEMANFAATAN ENZIM BROMELAIN
PADA LIMBAH KULIT NANAS (Ananas comosus (L.)Merr)
SEBAGAI ALTERNATIF OBAT LUKA LUAR

Abstrak

Usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya atau dalam melakukan proses produksi hampir dipastikan akan menghasilkan limbah dan dan menimbulkan pencemaran. Penanganan dan pengendalian limbah harus disertai upaya pemanfaatannya, sehingga menghemat biaya operasi dan menghasilkan nilai tambah. Oleh sebab itu, diperlukan usaha-usaha untuk menemukan cara pengendalian limbah secara ekonomis dan efektif sebagai salah satu tindakan peduli terhadap lingkungan. Masyarakat tidak menggunakan kulit nanas karena menganggapnya sampah. Hal inilah yang membuat penulis tergerak untuk memanfaatkan kulit nanas yang juga mengandung enzim bromelain sebagai alternatif obat luka dan pembengkakan/peradangan dalam tubuh. Ini didasari pertimbangan bahwa kulit nanas pada saat ini belum dimanfaatkan secara nyata, selain juga mengurangi dampak adanya limbah yang berupa kulit nanas.
Bromelain diekstrak dari batang nanas. Ia memiliki sejarah rakyat dan penggunaan obat modern. Sebagai suplemen itu diperkirakan memiliki efek anti-inflamasi. Sebagai bahan kuliner ini terutama digunakan sebagai pelunak suatu. Bromelain juga mengandung zat kimia yang dapat mengganggu pertumbuhan sel tumor dan memperlambat pembekuan darah, menurut penelitian laboratorium saja.
Dari hasil penelitian yang kami lakukan, maka diketahui bahwa kulit nanas yang mengandung enzim bromelain dapat dijadikan obat herbal yaitu obat luka luar yang tidak menyertakan efek samping yang berarti. Dari hasil pengujian jangka waktu penyembuhannya, didapatkan hasil dari seluruh responden  yang ada menyatakan bahwa alternative herbal enzim bromelain pada kulit pisang benar memiliki keefektifan dalam penyembuhan terutama terhadap penyembuhan luka luar.




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai makhluk hidup di dunia ini, manusia pasti melakukan proses produksi. Usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya atau dalam melakukan proses produksi hampir dipastikan akan menghasilkan limbah dan dan menimbulkan pencemaran. Akan tetapi, pencemaran yang disebabkan oleh limbah tersebut sesungguhnya dapat dihindari mengingat proses kehidupan manusia menyangkut perubahan-perubahan kimia yang dapat dikendalikan. Oleh karena itu, kita dapat membantu untuk mengelola limbah dan mengurangi beban lingkungan dalam mendukung kegiatan kita.
Penanganan dan pengendalian limbah harus disertai upaya pemanfaatannya, sehingga menghemat biaya operasi dan menghasilkan nilai tambah. Oleh sebab itu, diperlukan usaha-usaha untuk menemukan cara pengendalian limbah secara ekonomis dan efektif sebagai salah satu tindakan peduli terhadap lingkungan.
Negara Indonesia adalah negara agraris yang mempunyai tanah subur dan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan bercocok tanam. Tanah di Indonesia dapat ditanami berbagai macam jenis tanaman, seperti jenis tanaman pangan, palawija, buah-buahan, dan lain sebagainya. Salah satu dari limbah tersebut adalah kulit nanas.
Buah nanas dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan atau minuman. Dalam proses pengolahan nanas menjadi berbagai macam jenis makanan ataupun minuman pasti akan menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Salah satu dari limbah itu adalah kulit nanas.
Kulit nanas apabila dibiarkan atau tidak dimanfaatkan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu dari pencemaran adalah pencemaran udara. Karena kulit nanas yang dibiarkan akan membusuk dan menimbulkan bau yang sangat tidak enak. Di samping itu, jika dibiarkan dan  tidak segera dibersihkan juga akan mengganggu pandangan orang yang melihatnya dan membuat lingkungan menjadi kotor dan akan menjadi sumber penyakit.
Oleh karena itu, perlu dikaji uaya untuk meminimalkan pencemaran yang disebabkan oleh limbah kulit nanas tersebut dengan cara memanfaatkannya Karena ternyata nanas mengandung suatu enzim yang disebut enzim bromelain yang dapat membantu penyembuhan luka dan mengurangi pembengkakan/peradangan di dalam tubuh.
Masyarakat tidak menggunakan kulit nanas karena menganggapnya sampah. Hal inilah yang membuat penulis tergerak untuk memanfaatkan kulit nanas yang juga mengandung enzim bromelain sebagai alternatif obat luka dan pembengkakan/peradangan dalam tubuh. Ini didasari pertimbangan bahwa kulit nanas pada saat ini belum dimanfaatkan secara nyata, selain juga mengurangi dampak adanya limbah yang berupa kulit nanas.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.    Apakah terdapat cara yang mudah dalam menanggulangi limbah berupa kulit nanas.
2.    Apakah ada pengaruh enzim Bromelain yang terdapat pada kulit nanas dalam mengobati luka luar pada tubuh.

C.      Tujuan
Secara umum penelitian bertujuan untuk mengetahui alternatif pemanfaatan limbah kulit nanas untuk proses dalam mengobati luka dan pembengkakan/peradangan dalam tubuh. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:
1.    Untuk mengetahui apakah terdapat cara yang mudah dalam menanggulangi limbah berupa kulit nanas.
2.    Untuk mengetahui apakah ada pengaruh enzim Bromelain yang terdapat pada kulit nanas dalam mengobati luka luar pada tubuh.

D.      Hipotesa Penelitian
1.    Terdapat cara mudah untuk menanggulangi limbah berupa kulit nanas, yaitu dengan cara memanfaatkannya dalam proses pengobatan luka dan pembengkakan/peradangan dalam tubuh.
2.    Enzim Bromelain yang terdapat pada kulit nanas dapat dimanfaatkan dalam proses pengobatan luka luar pada tubuh.

E.       Manfaat
1.    Memberi informasi baru tentang pemanfaatan limbah kulit nanas.
2.    Mengurangi adanya pencemaran lingkungan akibat kulit nanas.
3.    Data penelitian ini merupakan informasi yang cukup penting dalam dunia ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bidang obat-obatan atau farmasi.
4.    Dapat digunakan sebagai sumber referensi untuk pengajaran topik-topik tentang ilmu kesehatan yang berhubungan dengan konsep pengobatan baik di sekolah maupun yayasan menggunakan pendekatan lingkungan dan muatan lokal.












BAB II
KAJIAN TEORI

A.   Nanas
1.    Sejarah Tanaman
Nanas berasal dari Amerika Selatan, tepatnya di Brasil. Tanaman ini telah dibudidayakan penduduk pribumi disana sejak lama. Kemudian pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15, (1599).
2.    Klasifikasi dan Morfologi
Dalam klasifikasi atau sistematika tumbuhan (taksonomi), nanas termasuk dalam famili bromiliaceae.  Kerabat dekat spesies nanas cukup banyak, terutama nanas liar yang biasa dijadikan tanaman hias, misalnya A. braceteatus (Lindl) Schultes, A. Fritzmuelleri, A. Adapun secara lengkap, klasifikasi tanaman Nanas adalah  sebagai berikut :
Kingdom             : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi                   : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Kelas                  : Angiospermae (berbiji tertutup)
Ordo                   : Farinosae (Bromeliales)
Famili                  : Bromiliaceae
Genus                  : Ananas
Species              : Ananas comosus (L) Merr.
Tanaman nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan (perennial). Tanaman nanas terdiri dari akar, batang, daun, batang, bunga, buah dan tunas-tunas. Akar nanas dapat dibedakan menjadi akar tanah dan akar samping, dengan sistem perakaran yang terbatas Akar-akar melekat pada pangkal batang dan termasuk berakar serabut (monocotyledonae). Kedalaman perakaran pada media tumbuh yang baik tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di tanah biasa jarang mencapai kedalaman 30 cm .
Batang tanaman nanas berukuran cukup panjang 20-25 cm atau lebih, tebal dengan diameter 2,0 -3,5 cm, beruas-ruas (buku-buku) pendek.  Batang sebagai tempat melekat akar, daun bunga, tunas dan buah, sehingga secara visual batang tersebut tidak nampak karena disekelilingnya tertutup oleh daun.  Tangkai bunga atau buah merupakan perpanjangan batang .
Daun nanas panjang, liat dan tidak mempunyai tulang daun utama.  Pada daunnya ada yang tumbuh dari duri tajam dan ada yang tidak berduri.  Tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung daun.  Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah menghadap ujung daun .
Daun nanas tumbuh memanjang sekitar 130-150 cm, lebar antara 3-5 cm atau lebih, permukaan daun sebelah atas halus mengkilap berwarna hijau tua atau merah tua bergaris atau coklat kemerah-merahan. Sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna keputih-putihan atau keperak-perakan.  Jumlah daun tiap batang tanaman sangat bervariasi antara 70-80 helai yang tata letaknya seperti spiral, yaitu mengelilingi batang mulai dari bawah sampai ke atas arah kanan dan kiri .
Nanas mempunyai rangkaian bunga majemuk pada ujung batangnya. Bunga bersifat hermaprodit dan berjumlah antara 100-200, masing-masing berkedudukan di ketiak daun pelindung. Jumlah bunga membuka setiap hari, berjumlah sekitar 5-10 kuntum.  Pertumbuhan bunga dimulai dari bagian dasar menuju bagian atas memakan waktu 10-20 hari. Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan.
Pada umumnya pada sebuah tanaman atau sebuah tangkai buah hanya tumbuh satu buah saja. Akan tetapi, karena pengaruh lingkungan dapat pula membentuk lebih dari satu buah pada satu tangkai yang disebut multiple fruit ( buah ganda). Pada ujung buah biasanya tumbuh tunas mahkota tunggal, tetapi ada pula tunas yang tumbuh lebih dari satu yang biasa disebut multiple crown (mahkota ganda).
3.    Jenis atau Varietas Nanas
Berdasarkan habitat tanaman, terutama bentuk daun dan buah dikenal 4 jenis golongan nanas, yaitu : Cayenne (daun halus, tidak berduri, buah besar), Queen (daun pendek berduri tajam, buah lonjong mirip kerucut), Spanyol/Spanish (daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah bulat dengan mata datar) dan Abacaxi (daun panjang berduri kasar, buah silindris atau seperti piramida). Varietas kultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat, Puerte Rico, Mexico dan Malaysia. Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. Dewasa ini ragam varietas/kultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor, Subang dan Palembang.
4.    Syarat Tumbuh
Daerah penyebaran nanas ialah 300 LU dan 300 LS dari khatulistiwa.  Tanaman nanas memerlukan beberapa persyaratan iklim yang harus dipenuhi agar dapat tumbuh baik. Faktor iklim ini mencakup curah hujan, ketinggian, kelembapan, suhu dan cahaya matahari.
Pada umumnya tanaman nanas ini toleran terhadap kekeringan serta memiliki kisaran curah hujan yang luas sekitar 1000-1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman nanas tidak toleran terhadap hujan salju karena rendahnya suhu. 0C.
Nanas tumbuh pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 100-200 m di atas permukaan laut. Di daerah dataran tinggi, tanaman ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1200 m dpl.  Pertumbuhan optimum tanaman nanas antara 100-700 m dpl.
Kelembapan tanah yang berlebihan pada awal pembungaan dapat menghambat pertumbuhan buah dan menghasilkan daun yang berlebihan. Sedangkan kelembapan yang berlebihan pada saat pembungaan akan menurunkan mutu. Suhu yang sesuai untuk budidaya tanaman nanas adalah 29-32 0C,  tetapi juga dapat hidup di lahan bersuhu rendah sampai 10.
Tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik dengan cahaya matahari rata-rata 33-71% dari kelangsungan maksimumnya, dengan angka tahunan rata-rata 2000 jam.
5.    Kesuburan Tanah
Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk pertanian cocok untuk tanaman nanas.  Meskipun demikian, lebih cocok pada jenis tanah yang mengandung pasir, subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik serta kandungan kapur rendah.
Kesuburan tanah dapat meningkatkan produktivitas, oleh karenanya tanah yang digunakan untuk menanam nanas sebaiknya memenuhi kriteria tanah subur.  Tanah yang subur terdiri atas hawa (udara) 25%, air 25 %, mineral 45%, dan bahan organic 5 %.  Atas dasar tersebut, maka kesuburan tanah dinilai atas dasar tinggi rendahnya kadar mineral (unsur hara essensia makro dan mikro) dan mudah sukarnya mineral diserap tanaman.
Derajat keasaman yang cocok adalah dengan pH 4,5-6,5. Tanah yang banyak mengandung kapur (pH lebih dari 6,5) menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan klorosis. Sedangkan tanah yang asam (pH 4,5 atau lebih rendah) mengakibatkan penurunan unsur Fosfor, Kalium, Belerang, Kalsium, Magnesium, dan Molibdinum dengan cepat.
6.    Teknik Perbanyakan Tanaman.
Teknik perbanyakan tanaman nanas dapat dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif. Cara vegetatif dapat digunakan adalah tunas akar, tunas batang, tunas buah, mahkota buah, stek batang dan dengan cara kultur in vitro.  Cara kultur in vitro biasanya digunakan untuk memproduksi bibit tanaman yang seragam dalam jumlah besar. Sedangkan cara generatif dengan biji yang ditumbuhkan dengan persemaian.Kualitas bibit yang baik harus berasal dari tanaman yang pertumbuhannya normal, sehat serta bebas dari hama dan penyakit.
Cara perbanyakan bibit tanaman nanas yang akan ditulis disini adalah  dari bibit tunas batang dan dari stek.
a.         Bibit Tunas Batang.
Adapun cara pembibitan dari tunas batang adalah sebagai berikut :
1).   Memilih tunas batang yang akan digunakan untuk pembibitan. Tanaman nanas dalam keadaan sedang berbuah atau telah dipanen. Tunas batang yang baik adalah panjang 30-35 cm.
2). Kemudian memotong daun-daun dekat pangkal pohon, untuk mengurangi penguapan dan mempermudah pengangkutan, setelah itu biarkan selama beberapa hari di tempat teduh dan bibit siap angkut ke tempat penanaman langsung segera ditanam.
b.        Bibit Nanas dari Stek.
Adapun cara pembibitan dari stek adalah sebagai berikut :
1).   Memotong batang nanas yang sudah dipanen buahnya sepanjang 2,5 cm.
2).   Membelah potongan  menjadi 4 bagian yang mengandung mata tunas.
3).   Potongan-potongan tersebut disemaikan dalam media pasir bersih.
4).   Setelah 3,5 bulan, bibit akan mencapai ketinggian 25-35 cm. maka bibit bisa langsung ditanam di kebun
7.    Pembibitan Tanaman.
Adapun tahap-tahap pembibitan tanaman nanas adalah sebagai berikut :
1)        Persemaian Tanaman.
Persemaian untuk nanas memerlukan perlakuan khusus. Langkah dalam menyiapkan media semai dalam bak persemaian berupa tepung (misalnya Rootone) pada permukaan belahan batang untuk mempercepat pertumbuhan akar. Belahan batang pada bak persemaian disemaikan sedalam 1,5 – 2,5 cm dan jarak tanam 5-10 cm. Kondisi media persemaian dijaga agar tetap lembab dan sirkulasi udara baik, dengan menutup bak persemaian dengan lembar plastic tembus cahaya (bening).
Stek batang nanas dibiarkan bertunas dan berakar. Tempat persemaian baru yang medianya disuburkan dengan pupuk kandang disiapkan. Campuran media berupa tanah halus, pasir dan pupuk kandang halus (1:1:1) atau pasir dengan pupuk kandang halus (1:1). Langkah terakhir adalah memindahtanamkan bibit nanas dari persemaian perkecambahan ke persemaian pembesaran bibit.
2)        Pemeliharaan Bibit
Pemeliharaan pembibitan/persemaian penyiraman dilakukan secara berkala dijaga agar kondisi media tanam selalu lembab dan tidak kering supaya bibit tidak mati. Pemupukan dilakukan dengan pemberian pupuk kandang dengan perbandingan kadar yang sudah ditentukan. Penjarangan dan pemberian pestisida dapat dilakukan jika diperlukan.
3)        Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit dapat dilakukan jika ukuran tinggi bibit mencapai 25-30 cm atau berumur 3-5 bulan
8.    Penanaman Tanaman.
1).   Pengolahan Media Tanam
a)  Persiapan
Penanaman nanas dapat dilakukan pada lahan tegalan atau ladang. Waktu persiapan dan pembukaan lahan yang paling baik adalah disaat waktu musim kemarau, dengan membuang pepohonan yang tidak diperlukan. Pengolahan tanah dapat dilakukan pada awal musim hujan. Derajat keasaman tanah perlu diperhatikan karena tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik pada pH sekitar 5,5. Jumlah bibit yang diperlukan untuk suatu lahan tergantung dari jenis nanas, tingkat kesuburan tanah dan ekologi pertumbuhannya.
b)  Pembukaan Lahan
Untuk membuka suatu lahan, perlu dilakukan: membuang dan membersihkan pohon-pohon atau batu-batuan dari sekitar lahan kebun ke tempat penampungan limbah pertanian. Mengolah tanah dengan dicangkul/dibajak dengan traktor sedalam 30-40 cm hingga gembur, karena, bisa berakibat fatal pada produksi tanaman. Biarkan tanah menjadi kering minimal selama 15 hari agar tanah benar-benar matang dan siap ditanami.
c)  Pembentukan Bedengan
Pembentukan bedengan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk kedua kalinya yang sesuai dengan sistem tanam yang dipakai. Sistem petakan cukup dengan cara meratakan tanah, kemudian di sekililingnya dibuat saluran pemasukan dan pembuangan air. Sistem bedengan dilakukan dengan cara membuat bedengan-bedengan selebar 80-120 cm, jarak antar bedengan 90-150 cm atau variasi lain sesuai dengan sistem tanam. Tinggi petakan atau bedengan adalah antara 30-40 cm.
d) Pengapuran
Derajat kemasaman tanah yang sesuai untuk tanaman nanas adalah 4,5-6,5. Pengapuran tanah dilakukan dengan Calcit atau Dolomit atau Zeagro atau bahan kapur lainnya dengan cara ditaburkan merata dan dicampurkan dengan lapisan tanah atas terutama tanah-tanah yang bereaksi asam (pH dibawah 4,5). Dosis kapur disesuaikan dengan pH tanah, namun umumnya berkisar antara 2-4 ton/ha. Bila tidak turun hujan, setelah pengapuran segera dilakukan pengairan tanah agar kapur cepat melarut.
e)  Pemupukan
Dalam penanaman nanas dilakukan pemberian pupuk kandang dengan dosis 20 ton per hektar. Cara pemberian: dicampurkan merata dengan lapisan tanah atas atau dimasukkan per lubang tanam. Juga digunakan pupuk anorganik NPK dan urea. Nitrogen (N) sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, fosfor diperlukan selama beberapa bulan pada awal pertumbuhan sedangkan Kalium diperlukan untuk perkembangan buah, khususnya nanas. Pupuk urea penggunaannya dikombinasikan dengan perangsang pembungaan.
2).   Teknik Penanaman
a)  Penentuan Pola Tanam
Pola tanam merupakan pengaturan tata letak tanaman dan urutan jenis tanaman dengan waktu tertentu, dalam kurun waktu setahun. Dalam teknik penanaman nanas ada beberapa sistem tanam, yaitu: sistem baris tunggal atau persegi dengan jarak tanam 150 x 150 cm baik dalam maupun antar barisan; 90 x 30 cm jarak dalam barisan 30 cm, dan jarak antar barisan adalah 90 cm. Sistem baris rangkap dua dengan jarak tanam 60 x 60 cm, dan jarak antar barisan sebelah kiri dan kanan dari 2 barisan adalah 150 cm dan jarak tanam 45 x 30 cm, dan jarak antar barisan tanaman sebelah kiri dan kanan dari 2 barisan tanaman adalah 90 cm. Sistem baris rangkap tiga dengan jarak tanam 30 x 30 cm membentuk segitiga sama sisi dengan jarak antar barisan sebelah kiri/ kanan dari 3 barisan tanaman: 90 cm dan jarak tanam 40 x 30 cm dengan jarak antar barisan sebelah kiri/kanan dari 3 barisan adalah 90 cm serta sisitem baris rangkap empat dengan jarak 30 x 30 cm dan jarak antar barisan sebelah kiri/kanan dari 4 barisan tanaman 90 cm.
b)  Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam pada jarak tanam yang dipilih sesuai dengan system tanam. Ukuran lubang tanam: 30 x 30 x 30 cm. Untuk membuat lubang tanam digunakan pacul, tugal atau alat lain.
c)  Cara Penanaman
Penanaman yang baik dilakukan pada awal musim hujan. Langkah-langkah yang dilakukan:
(1)   membuat lubang tanam sesuai dengan jarak dan sistem tanam yang dipilih;
(2)   mengambil bibit nanas sehat dan baik dan menanam bibit pada lubang tanam yang tersedia masing-masing satu bibit per lubang tanam;
(3)   tanah ditekan/dipadatkan di sekitar pangkal batang bibit nanas agar tidak mudah roboh dan akar tanaman dapat kontak langsung dengan air tanah;
(4)   dilakukan penyiraman hingga tanah lembab dan basah;
(5)   penanaman bibit nanas jangan terlalu dalam, 3-5 cm bagian pangkal batang tertimbun tanah agar bibit mudah busuk.
3).   Pemeliharaan Tanaman
a)  Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan nanas tidak dilakukan karena tanaman nanas spesifik dan tidak berbentuk pohon. Kegiatan penyulaman nanas diperlukan, sebab ceding-ceding bibit nanas tidak tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau faktor bibit.
b)  Penyiangan
Penyiangan diperlukan untuk membersihkan kebun nanas dari rumput liar dan gulma pesaing tanaman nanas dalam hal kebutuhan air, unsur hara dan sinar matahari. Rumput liar sering menjadi sarang dari dan penyakit. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan rumput liar di kebun, namun untuk menghemat biaya penyiangan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemupukan. Cara penyiangan  dilakukan  dengan mencabut  rumput dengan tangan/kored/cangkul. Tanah di sekitar bedengan digemburkan dan ditimbunkan pada pangkal batang nanas sehingga membentuk guludan.
c)  Pembubunan
Pembubunan diperlukan dalam penanaman nanas, dilakukan pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah dari selokan atau parit di sekeliling bedengan, agar bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi lebih dalam, sehingga drainase menjadi normal kembali. Pembubunan berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah dan akar yang keluar di permukaan tanah tertutup kembali sehingga tanaman nanas berdiri kuat.
d) Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan dengan pupuk buatan. Pemupukan susulan berikutnya diulang tiap 3-4 bulan sekali sampai tanaman berbunga dan berbuah. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah:
a)      Pupuk NPK tablet (Pamafert)
Bentuk pupuk berupa tablet, berat 4 gram setiap tablet. Dosis anjuran satu tablet tiap tanaman
b)   Pupuk tunggal berupa campuran ZA, TSP, atau SP-36 dan KCl
1.  Dosis anjuran 1: ZA 100 kg + TSP atau SP-36 60 kg + KCl 50 kg per hektar. Pupuk susulan diulang setiap 4 bulan sekali dengan dosis yang sama.
2.  Dosis anjuran 2: mulai umur 3 bulan setelah tanam dipupuk dengan ZA 125 kg atau urea 62,5 kg + TSP atau SP-36 75 kg/ha. Pada umur 6 Bulan dipupuk kandang 10 ton/ha.
Cara pemberian pupuk dibenamkan/dimasukkan ke dalam parit sedalam 10-15 cm diantara barisan tanaman nanas, kemudian tutup dengan tanah. Cara lain: disemprotkan pada daun terutama pupuk Nitrogen dengan dosis 40 gram Urea per liter atau ± 900 liter larutan urea per hektar.
e)  Pengairan dan Penyiraman
Sekalipun tanaman nanas tahan terhadap iklim kering, namun untuk pertumbuhan tanaman yang optimal diperlukan air yan cukup. Pengairan /penyiraman dilakukan 1-2 kali dalam seminggu atau tergantung keadaan cuaca. Tanaman nanas dewasa masih perlu pengairan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan secara optimal. Pengairan dilakukan 2 minggu sekali. Tanah yang terlalu kering dapat menyebabkan pertumbuhan nanas kerdil dan buahnya kecil-kecil. Waktu pengairan yang paling baik adalah sore dan pagi hari dengan menggunakan mesin penyemprot atau embrat.
9.    Hama
a).   Penggerek buah (Thecla basilides Geyer)
·      Ciri: Kupu-kupu berwarna coklat dan kupu-kupu betina meletakkan telurnya pada permukaan buah, kemudian menetas menjadi larva; bentuk larva pada bagian tubuh atas cembung, bagian bawah datar dan tubuh tertutup bulu-bulu halus pendek.
·      Gejala: Menyerang buah dengan cara menggerek/melubangi daging buah; buah nanas yang diserang hama ini berlubang dan mengeluarkan getah, kemudian membusuk karena diikuti serangan cendawan atau bakteri.
·      Pengendalian:
(1)   Non kimiawi dengan menjaga kebersihan kebun serta membuang bagian tanaman yang terserang hama;
(2) Kimiawi dengan menyemprot insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Basudin 60 EC atau Thiodan 35 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
b).   Kumbang (Carpophilus hemipterus L.)
·       Ciri: Berupa kumbang kecil, berwarma coklat/hitam; larva berwarna putih kekuningan, berambut tipis, bentuk langsing berkaki 6.
·       Gejala: Menyerang tanaman nanas yang gluka sehingga bergetah dan busuk oleh mikroorganisme lain (cendawan dan bakteri).
·       Pengendalian: Dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dan pemberian insektisida.
c)      Lalat buah (Atherigona sp.)
·      Ciri: Lalat berukuran kecil, meletakkan telur pada bekas luka bagian buah, kemudian menjadi larva berwarna putih.
·      Gejala: merusak/ memakan daging buah hingga menyebabkan busuk lunak.
·      Pengendalian:
(1)   non kimiawi dengan menjaga kebersihan kebun, membuang buah yang terserang lalat buah;
(2)   kimiawi dengan cara disemprot insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Thiodan 35 EC atau Basudin EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
d)    Thrips (Holopothrips ananasi Da Costa Lima)
·       Ciri: Tubuh thrips berukuran sangat kecil panjang sekitar 1,5 mm, berwarna coklat, dan bermata besar.
·       Gejala: menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan sel daun sehingga menimbulkan bintik-bintik berwarna perak; pada tingkat serangan yang berat menyebabkan pertumbuhan tanaman muda terhambat.
·       Pengendalian:
(1)  secara non kimiawi dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dan mengurangi ragam tanaman inang;
(2) secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida: Mitac 200 EC atau Dicarol 25 SP pada konsentrasi yang dianjurkan.
e)    Sisik (Diaspis bromeliae Kerne)
·       Ciri: Serangga berukuran kecil diameter ± 2,5 mm, bulat dan datar, berwarna putih kekuningan/keabu-abuan, bergerombol menutupi buah dan daun, sehingga menyebabkan ukuran buah kecil dan pertumbuhan tanaman terhambat.
·       Pengendalian: Dapat disemprot dengan insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron 500 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
f)    Ulat buah (Tmolus echinon L)
·       Ciri: Serangga muda/dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat serta larva/ulat tertutup rambut halus dan kepalanya kecil.
·       Gejala: menyerang buah nanas dengan cara menggerek dan membuat lubang yang menyebabkan buah berlubang, bergetah dan sebagian buah memotong bagian tanaman yang terserang berat.
·       Pengendalian : dilakukan dengan mengumpulkan/membunuh ulat secara mekanis, serta disemprot insektisida: Buldok 25 EC atau Thiodan 35 EC pada konsentrasi yang dianjurkan
g)    Hama lain: rayap, tikus, nematoda, bintil akar dan kutu tepung jeruk juga kadang- kadang menyerang tanaman nanas.
10.  Penyakit
1).  Busuk hati dan busuk akar
·       Penyebab: Cendawan Phytophthora parasitica Waterh dan P. cinnamomi Rands. Penyakit busuk hati disebut hearth rot, sedangkan busuk akar dinamakan root rot. Penyebaran penyakit dibantu bermacam-macam tanaman inang, air yang mengalir, alat-alat pertanian, curah hujan tinggi, tanah yang mengandung bahan organik dan kelembaban tanah tinggi antara 25-35 oC.
·       Gejala: Pada daun terjadi perubahan warna menjadi hijau belang-belang kuning dan ujungnya nekrotis; daun-daun muda mudah dicabut bagian pangkalnya membusuk dengan bau busuk berwarna coklat, dan akhirnya tanaman mati; pembusukan pada system perakaran.
·       Pengendalian:
(1)   non kimiawi dilakukan dengan cara perbaikan drainase tanah, mengurangi kelembapan sekitar kebun, dan memotong/mencabut tanaman yang sakit;
(2) kimiawi dengan pencelupan bibit dalam larutan fungisida sebelum tanam, seperti Dithane M-45 atau Benlate.
2)    Busuk pangkal
·      Penyebab: cendawan Thielaviopsis paradoxa (de Seyn) Hohn atau Ceratocystis paradoxa (Dade) C. Moreu. Penyakit ini sering disebut base rot. Penyebaran penyakit dibantu tanaman inangnya, adanya luka-luka mekanis pada tanaman, angin, hujan dan tanah.
·      Gejala: pada bagian pangkal batang, daun, buah dan bibit menampakkan gejala busuk lunak berwarna coklat atau hitam, berbau khas, atau bercak-bercak putih kekuning-kuningan.
·      Pengendalian:
(1)   non kimiawi dengan melakukan penyimpanan bibit sementara sebelum tanamn agar luka cepat sembuh, menanam bibit pada cuaca kering, dan menghindari luka-luka mekanis;
(2) kimiawi dengan perendaman bibit dalam larutan fungisida Benlate.
3)    Penyakit Lain
·      Penyakit adalah busuk bercak gabus pada buah disebabkan oleh cendawan Pinicillium funiculosum Thom, busuk bibit oleh cendawan Pythium sp., layu dan bercak kuning oleh virus yang belum diketahui secara pasti jenisnya.
·      Pengendalian: Harus dilakukan secara terpadu, meliputi penggunaan bibit yang sehat, perbaikan kultur teknik budidaya secara intensif, pemotongan/pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit.
11.  Gulma
Penurunan produksi nanas dapat disebabkan oleh banyak dan dominannya gulma karena pemberian mulsa yang kurang baik sehingga pertumbuhan rumput subur.
12.  Panen
a)    Ciri dan Umur Panen
Panen buah nanas dilakukan setelah nanas berumur 12-24 bulan, tergantung dari jenis bibit yang digunakan. Bibit yang berasal dari mahkota bunga berbuah pada umur 24 bulan, hingga panen buah setelah berumur 24 bulan. Tanaman yang berasal dari tunas batang dipanen setelah umur 18 bulan, sedangkan tunas akar setelah berumur 12 bulan. Ciri-ciri buah nanas yang siap dipanen:
Ø Mahkota buah terbuka.
Ø Tangkai ubah mengkerut.
Ø Mata buah lebih mendatar, besar dan bentuknya bulat.
Ø Warna bagian dasar buah kuning.
Ø Timbul aroma nanas yang harum dan khas.
b)        Cara Panen
Tata cara panen buah nanas: memilih buah nanas yang menunjukkan tanda-tanda siap panen. Pangkal tangkai buah dipotong secara mendatar/miring dengan pisau tajam dan steril. Pemanenan dilakukan secara hati-hati agar tidak rusak dan memar.
c)        Periode Panen
Tanaman nanas dipanen setelah berumur 12-24 bulan. Pemanenan buah nanas dilakukan bertahap sampai tiga kali. Panen pertama sekitar 25%, kedua 50%, dan ketiga 25% dari jumlah yang ada. Tanaman yang sudah berumur 4-5 tahun perlu diremajakan karena pertumbuhannya lambat dan buahnya kecil. Cara peremajaan adalah membongkar seluruh tanaman nanas untuk diganti dengan bibit yang baru. Penyiapan lahan sampai penanaman dilakukan seperti cara bercocok tanam pada lahan yang baru.
d)       Prakiraan Produksi
Potensi produksi per hektar pada tanaman nanas yang dibudidayakan intensif dapat mencapai 38-75 ton/hektar. Pada umumnya rata-rata 20 ton/hektar, tergantung jenis nanas dan sistem tanam.
13.  Pascapanen
Buah nanas termasuk komoditi buah yang mudah rusak, susut dan cepat busuk. Oleh karena itu, setelah panen memerlukan penanganan pascapanen yang memadai.
1.        Pengumpulan
Setelah panen dilakukan pengumpulan buah ditempat penampungan hasil atau gudang sortasi.
2.        Penyortiran dan Penggolongan
Kegiatan sortasi dimulai dengan memisahkan buah yang rusak, memar, busuk, atau mentah secara tersendiri dari buah yang bagus dan normal. Klasifikasi buah berdasarkan bentuk dan ukuran yang seragam, jenis maupun tingkat kematangannya.
3.        Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan jika harga turun, sehingga untuk menunggu harga naik maka dilakukan penyimpanan. Buah nanas biasanya disimpan dalam peti kemas dalam ruangan dingin yang suhunya sekitar 5oC.
4.        Pengemasan dan Pengangkutan
Kegiatan pengemasan dimulai dengan mengeluarkan buah nanas dari lemari pemeraman, lalu dipilih (sortasi) berdasarkan tingkat kerusakannya agar seragam. Kemudian buah nanas dibungkus dengan kertas pembungkus lalu dikemas dalam keranjang bambu atau peti kayu atau dos karton bergelombang. Ukuran wadah pengemasan 60 x 30 x 30 cm yang diberi lubang ventilasi. Proses pengangkutan dimulai dengan memasukkan peti kemas secara teratur pada alat pengangkutan, buah nanas diangkut dan dipasarkan ke tempat pemasaran.
14.  Kandungan Bromelin Pada Tanaman Nanas
Buah nanas mengandung enzim bromelain, (enzim protease yang dapat menghidrolisa protein, protease atau peptide), sehingga dapat digunakan untuk melunakkan daging.Enzim bromelain mencerna protein di dalam makanan dan menyiapkannya agar mudah untuk diserap oleh tubuh. Nanas juga dapat digunakan untuk mengempukkan daging. Selain kegunaan di atas, nanas mengandung citric dan malic acid yang memberi rasa manis dan asam pada buahnya. Asam ini membuat nanas menjadi bahan makanan yang digunakan secara luas untuk membuat masakan asam manisBuah nanas banyak mengandung enzim bromelain, tapi kandungan bromelain di dalam kulitnya lebih banyak lagi. Karena itu, jangan membuang kulit nanas, karena bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengempuk alami. Enzim bromelain mampu menguraikan serat-serat daging, sehingga daging menjadi lebih empuk. (http://www.sedapsekejap.com/artikel/2001/edisi7/files/artikel.htm)
Protein “bromelain” memiliki potensi yang sama dengan “papain” yang ditemukan pada pepaya yang dapat mencerna protein sebesar 1000 kali beratnya, sehingga nanas bermanfaat sebagai penghancur lemak. Bromelain dapat membantu melarutkan pembentukan mukus dan juga mempercepat pembuangan lemak melalui ginjal. Bromelain juga memiliki asam sitrat dan malat yang penting dan diperlukan untuk memperbaiki proses pembuangan lemak dan mangan, dan menjadi komponen penting enzim tertentu yang diperlukan dalam metabolisme protein dan karbohidrat. .(Buletin Teknopro Hortikultura edisi 71 tahun 2004)
Bromelain diekstrak dari batang nanas. Ia memiliki sejarah rakyat dan penggunaan obat modern. Sebagai suplemen itu diperkirakan memiliki efek anti-inflamasi. Sebagai bahan kuliner ini terutama digunakan sebagai pelunak suatu. Bromelain juga mengandung zat kimia yang dapat mengganggu pertumbuhan sel tumor dan memperlambat pembekuan darah, menurut penelitian laboratorium saja.
Bromelain dapat merujuk ke salah satu dari dua protease enzim diekstraksi dari keluarga tanaman Bromeliaceae , atau dapat mengacu pada kombinasi dari orang-enzim bersama dengan senyawa lain diproduksi di ekstrak.
Bromelin merupakan salah satu jenis enzim protease sulfhidril yang mampu menghidrolisis ikatan peptida pada protein atau polipeptida menjadi molekul yang lebih kecil yaitu asam amino. Bromelin ini berbentuk serbuk amori dengan warna putih bening sampai kekuning-kuningan, berbau khas, larut sebagian dalam: Aseton, Eter, dan CHCL3, stabil pada pH: 3,0 – 5,5. Suhu optimum enzim bromelin adalah 50°C- 80°C.
Enzim ini terdapat pada tangkai, kulit, daun, buah, maupun batang tanaman nanas dalam jumlah yang berbeda. Dilaporkan bahwa kandungan enzim bromelin lebih banyak terdapat pada batang yang selama ini kurang dimanfaatkan. Distribusi bromelin pada batang nanas tidak merata dan tergantung pada umur tanaman. Kandungan bromelin pada jaringan yang umurnya belum tua terutama yang bergetah sangat sedikit sekali bahkan kadang-kadang tidak ada sama sekali. Sedangkan bagian tengah batang mengandung bromelin lebih banyak dibandingkan dengan bagian tepinya.
Berdasarkan hasil penelitian Muniarti (2006) buah nanas yang masih hijau atau belum matang ternyata mengandung bromelin lebih sedikit dibanding buah nanas segar yang sudah matang. Penelitian yang lain menunjukkan buah yang matang karena diperam memiliki kandungan yang lebih sedikit dibandingkan buah yang masih hijau.
Buah nanas mengandung enzim bromelin, enzim tersebut terdapat pada hati, kulit, dan tangkai nanas. Kandungan enzim bromelin pada bagian-bagian buah bervariasi, kandungan bromelin pada masing-masing bagian buah dapat dilihat pada tabel berikut ;
Kandungan Bromelain dalam Buah Nanas (Murniati, 2006)
Bagian Buah
Jumlah Bromelin (%)
Buah Utuh Masak
0,060-0,080
Daging Buah Masak
0,080-0,125
Kulit Buah
0,050-0,075
Tangkai Buah
0.040-0,060
Buah Utuh Matang
0.040-0,060
Daging Buah Mentah
0,050-0,070
Adapun kandungan gizi dari nanas menurut BPPHP adalah sebagai berikut ;
No.
Kandungan gizi
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Kalori
Protein
Lemak
Karbohidrat
Fosfor
Zat Besi
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin C
Air
Bagian dapat dimakan
52,00   kal
0,40   g
0,20   g
16,00  g
11,00  mg
0,30 mg
130,00 SI
0,08 mg
24,00 mg
85,30 g
53,00
15.  Hal-hal yang perlu diwaspadai dalam nanas
Meskipun ada seabrek keuntungan dalam mengkonsumsi nanas, namun ada beberapa hal yang perlu diwaspadai agar tidak terjerumus dalam kessakitan atau penyesalan. Antara lain;
a.       Kosumsi yang berlebihan dapat mengakibatkan keguguran pada ibu hamil, karena enzim ini sering pula dimanfaatkan sebagai bahan kontrasepsi Keluarga Berencana untuk memperjarang kehamilan.
b.      Bagi beberapa orang, mengkonsumsi nanas terlalu banyak dapat menyebabkan sakit kepala.
c.       Nanas dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang. Sebagian orang dapat merasakan gejala alergi seperti kulit menjadi merah dan gatal setelah mengkonsumsi nanas.
d.      Selain itu nanas juga dapat menyebabkan diare atau mual pada sebagian orang. Hal ini dapat terjadi jika orang yang alergi terhadap nanas mengkonsumsi nanas dalam jumlah besar.
B.   Luka       
1.    Pengertian Luka
Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier, 1995). Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
2.    Jenis-Jenis Luka
Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka (Taylor, 1997).
·           Berdasarkan tingkat kontaminasi
a.    Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b.    Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.
c.    Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
d.   Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.
·           Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
a.       Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b.      Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c.       Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d.      Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
·           Berdasarkan waktu penyembuhan luka
a.    Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
b.    Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.
·           Berdasarkan mekanisme terjadinya luka :
1.      Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi).
2.      Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3.      Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4.      Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.      Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6.      Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7.      Luka Bakar (Combustio)
3.    Penyembuhan Luka
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan (Taylor, 1997).
·           Prinsip Penyembuhan Luka
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997) yaitu:
(1)   Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang,
(2)   Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga,
(3)   Respon tubuh secara sistemik pada trauma,
(4)   Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka,
(5)   Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme, dan
(6)   Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri.
·           Fase Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan (Kozier,1995).
v  Menurut Kozier, 1995:
(1)      Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 – 4 hari. Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati, scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Epitelial sel membantu sebagai barier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme. Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan
(2)      Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke-21 setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka. Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah.
(3)      Fase Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Kolagen menjalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang lebih kuat. Bekas luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih.
v  Menurut Taylor (1997):
(1)      Fase Inflamatory
Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3 – 4 pasca operasi. Dua tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. Sebagai tekanan yang besar, luka menimbulkan lokal adaptasi sindrom. Sebagai hasil adanya suatu konstriksi pembuluh darah, berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. Lebih kurang 24 jam setelah luka sebagian besar sel fagosit ( makrofag) masuk ke daerah luka dan mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi.
(2)      Fase Proliferative
Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat mensintesis kolagen dan substansi dasar. Dua substansi ini membentuk lapis lapis perbaikan luka. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada didalamnya, sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru ini disebut granulasi jaringan, adanya pembuluh darah, kemerahan dan mudah berdarah.
(3)      Fase Maturasi
Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 – 2 tahun setelah luka. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah, membuat penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Kollagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi rata, tipis dan garis putih.
v  Menurut Potter (1998):
(1)   Devensive / Tahap Inflamatory
Dimulai ketika sejak integritas kulit rusak/terganggu dan berlanjut hingga 4-6 hari. Tahap ini terbagi atas Homeostasis, Respon inflamatori, Tibanya sel darah putih di luka. Hemostasis adalah kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah, membawa platelet menghentikan perdarahan. Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya organisme infeksius. Respon inflammatory adalah saat terjadi peningkatan aliran darah pada luka dan permeabilitas vaskuler plasma menyebabkan kemerahan dan bengkak pada lokasi luka. Sampainya sel darah putih di luka melalui suatu proses, neutrophils membunuh bakteri dan debris yang kemudian mati dalam beberapa hari dan meninggalkan eksudat yang menyerang bakteri dan membantu perbaikan jaringan. Monosit menjadi makrofag, selanjutnya makrofag membersihkan sel dari debris oleh pagositosis, Meningkatkan perbaikan luka dengan mengembalikan asam amino normal dan glukose. Epitelial sel bergerak dari dalam ke tepi luka selama lebih kurang 48 jam.
(2)   Reconstruksion / Tahap Prolifrasi
Penutupan dimulai hari ke-3 atau ke-4 dari tahap defensive dan berlanjut selama 2 – 3 minggu. Fibroblast berfungsi membantu sintesis vitamin B dan C, dan asam amino pada jaringan kollagen. Kollagen menyiapkan struktur, kekuatan dan integritas luka. Epitelial sel memisahkan sel-sel yang rusak.
(3)   Tahap Maturasi
Tahap akhir penyembuhan luka berlanjut selama 1 tahun atau lebih hingga bekas luka merekat kuat.
4.         Faktor yang Mempengaruhi Luka
a.         Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.
b.        Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat.
c.         Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri sumber penyebab infeksi.
d.        Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
e.         Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
f.         Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”).
g.        Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
h.        Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
i.          Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.
j.          Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a.       Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
b.      Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c.       Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
5.         Komplikasi Penyembuhan Luka
Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan, dehiscence dan eviscerasi.
1.        Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih.
2.        Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu.Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan luka steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan.
3.        Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4 –5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.
6.         Perkembangan Perawatan Luka
Profesional perawat percaya bahwa penyembuhan luka yang terbaik adalah dengan membuat lingkungan luka tetap kering (Potter.P, 1998). Perkembangan perawatan luka sejak tahun 1940 hingga tahun 1970, tiga peneliti telah memulai tentang perawatan luka. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan yang lembab lebih baik daripada lingkungan kering. Winter (1962) mengatakan bahwa laju epitelisasi luka yang ditutup poly-etylen dua kali lebih cepat daripada luka yang dibiarkan kering. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa migrasi epidermal pada luka superficial lebih cepat pada suasana lembab daripada kering, dan ini merangsang perkembangan balutan luka modern ( Potter. P, 1998). Perawatan luka lembab tidak meningkatkan infeksi. Pada kenyataannya tingkat infeksi pada semua jenis balutan lembab adalah 2,5 %, lebih baik dibanding 9 % pada balutan kering (Thompson. J, 2000).
Rowel (1970) menunjukkan bahwa lingkungan lembab meningkatkan migrasi sel epitel ke pusat luka dan melapisinya sehingga luka lebih cepat sembuh. Konsep penyembuhan luka dengan teknik lembab ini merubah penatalaksanaan luka dan memberikan rangsangan bagi perkembangan balutan lembab ( Potter. P, 1998).
Penggantian balutan dilakukan sesuai kebutuhan tidak hanya berdasarkan kebiasaan, melainkan disesuaikan terlebih dahulu dengan tipe dan jenis luka. Penggunaan antiseptik hanya untuk yang memerlukan saja karena efek toksinnya terhadap sel sehat. Untuk membersihkan luka hanya memakai normal saline (Dewi, 1999). Citotoxic agent seperti povidine iodine, asam asetat, seharusnya tidak secara sering digunakan untuk membersihkan luka karena dapat menghambat penyembuhan dan mencegah reepitelisasi. Luka dengan sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan dengan kassa yang dibasahi dengan sodium klorida dan tidak terlalu banyak manipulasi gerakan. (Walker. D, 1996)
Tepi luka seharusnya bersih, berdekatan dengan lapisan sepanjang tepi luka. Tepi luka ditandai dengan kemerahan dan sedikit bengkak dan hilang kira-kira satu minggu. Kulit menjadi tertutup hingga normal dan tepi luka menyatu.
Perawat dapat menduga tanda dari penyembuhan luka bedah insisi :
1.        Tidak ada perdarahan dan munculnya tepi bekuan di tepi luka.
2.        Tepi luka akan didekatkan dan dijepit oleh fibrin dalam bekuan selama satu atau beberapa jam setelah pembedahan ditutup.
3.        Inflamasi (kemerahan dan bengkak) pada tepi luka selama 1 – 3 hari.
4.        Penurunan inflamasi ketika bekuan mengecil.
5.        Jaringan granulasi mulai mempertemukan daerah luka. Luka bertemu dan menutup selama 7 – 10 hari. Peningkatan inflamasi digabungkan dengan panas dan drainase mengindikasikan infeksi luka. Tepi luka tampak meradang dan bengkak.
6.        Pembentukan bekas luka.
7.        Pembentukan kollagen mulai 4 hari setelah perlukan dan berlanjut sampai 6 bulan atau lebih.
8.        Pengecilan ukuran bekas luka lebih satu periode atau setahun. Peningkatan ukuran bekas luka menunjukkan pembentukan kelloid.
7.         Tujuan Perawatan Luka
1)        Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2)        Absorbsi drainase
3)        Menekan dan imobilisasi luka
4)        Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5)        Mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6)        Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7)        Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien
8.         Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka
·           Sodium Klorida 0,9 %
Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh karena alasan ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari sodium klorida. Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley & Aucker, 1999). Sodium klorida atau natrium klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson, 1992). Sodium klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi, yang paling sering adalah sodium klorida 0,9 %. Ini adalah konsentrasi normal dari sodium klorida dan untuk alasan ini sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley & Aucker, 1999). Merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah.
·           Larutan povodine-iodine.
Iodine adalah element non metalik yang tersedia dalam bentuk garam yang dikombinasi dengan bahan lain Walaupun iodine bahan non metalik iodine berwarna hitam kebiru-biruan, kilau metalik dan bau yang khas. Iodine hanya larut sedikit di air, tetapi dapat larut secara keseluruhan dalam alkohol dan larutan sodium iodide encer. Iodide tinture dan solution keduanya aktif melawan spora tergantung konsentrasi dan waktu pelaksanaan (Lilley & Aucker, 1999). Larutan ini akan melepaskan iodium anorganik bila kontak dengan kulit atau selaput lendir sehingga cocok untuk luka kotor dan terinfeksi bakteri gram positif dan negatif, spora, jamur, dan protozoa. Bahan ini agak iritan dan alergen serta meninggalkan residu (Sodikin, 2002). Studi menunjukan bahwa antiseptik seperti povodine iodine toxic terhadap sel (Thompson. J, 2000). Iodine dengan konsentrasi > 3 % dapat memberi rasa panas pada kulit. Rasa terbakar akan nampak dengan iodine ketika daerah yang dirawat ditutup dengan balutan oklusif kulit dapat ternoda dan menyebabkan iritasi dan nyeri pada sisi luka. (Lilley & Aucker, 1999).
9.         Merawat Luka
a.         Pengertian
Merawat luka untuk mencegah trauma (injury) pada kulit, membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit.
b.        Tujuan
1.      Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa.
2.      Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan.
3.      Mempercepat penyembuhan.
4.      Membersihkan luka dari benda asing atau debris.
5.      Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat.
6.      Mencegah perdarahan.
7.      Mencegah excoriasi kulit sekitar drain.
c.         Persiapan alat
1.        Set steril yang terdiri atas :
a. Pembungkus
b. Kapas atau kasa untuk membersihkan luka
c. Tempat untuk larutan
d. Larutan anti septic
e. 2 pasang pinset
f. Gaas untuk menutup luka.
2.    Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti : extra balutan dan zalf.
3.    Gunting
4.    Kantong tahan air untuk tempat balutan lama
5.    Plester atau alat pengaman balutan
6.    Selimut mandi jika perlu, untuk menutup pasien
7.    Bensin untuk mengeluarkan bekas plester
d.    Cara kerja
1.    Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jawab pertanyaan pasien.
2.    Minta bantuan untuk mengganti balutan pada bayi dan anak kecil.
3.    Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4.    Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bukan hanya pada daerah luka, gunakan selimut mandi untuk menutup pasien jika perlu.
5.    Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Bisa dipasang pada sisi tempat tidur.
6.    Angkat plester atau pembalut.
7.    Jika menggunakan plester angkat dengan cara menarik dari kulit dengan hati-hati kearah luka. Gunakan bensin untuk melepaskan jika perlu.
8.    Keluarkan balutan atau surgipad dengan tangan jika balutan kering atau menggunakan sarung tangan jika balutan lembab. Angkat balutan menjauhi pasien.
9.    Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik.
10.  Buka set steril
11.  Tempatkan pembungkus steril di samping luka
12.  Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan sampai mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. Jika gaas dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset, satu untuk mengangkat gaas dan satu untuk memegang drain.
13.  Catat jenis drainnya bila ada, banyaknya jahitan dan keadaan luka.
14.  Buang kantong plastik. Untuk menghindari dari kontaminasi ujung pinset dimasukkan dalam kantong kertas, sesudah memasang balutan pinset dijauhkan dari daerah steril.
15.  Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset ujungnya labih rendah daripada pegangannya. Gunakan satu kapas satu kali mengoles, bersihkan dari insisi kearah drain :
a.    Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar
b.    Jika ada drain bersihkan sesudah insisi
c.    Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer, bersihkan dari tengah luka kearah luar, gunakan pergerakan melingkar.
16.  Ulangi pembersihan sampai semua drainage terangkat.
17.  Olesi zalf atau powder. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril.
18.  Gunakan satu balutan dengan plester atau pembalut
19.  Amankan balutan dengan plester atau pembalut
20.  Bantu pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan.
21.  Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor. Bersihkan alat dan buang sampah dengan baik.
22.  Cuci tangan
23.  Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang bertanggung jawab. Catat penggantian balutan, kaji keadaan luka dan respon pasien.
e.       Membersihkan Daerah Drain
Daerah drain dibersihkan sesudah insisi. Prinsip membersihkan dari daerah bersih ke daerah yang terkontaminasi karena drainnya yang basah memudahkan pertumbuhan bakteri dan daerah daerah drain paling banyak mengalami kontaminasi. Jika letak drain ditengah luka insisi dapat dibersihkan dari daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Gunakan kapas yang lain. Kulit sekitar drain harus dibersihkan dengan antiseptik.






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.      Waktu dan Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011. Adapun tempat dilaksanakan penelitian adalah:
a)    Desa Jatibarang Lor Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes sebagai tempat dilaksanakan pengamatan dan wawancara.
b)   Desa Babakan Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon sebagai tempat dilaksanakan pengamatan dan wawancara.
c)    STIKes Cirebon sebagai tempat pengolahan data dan studi pustaka.

B.       Sampel
Dalam penelitian digunakan sampel penelitian, yaitu:
a)    Penderita luka insisi (Incised wounds)         :           5 orang
b)   Penderita luka lecet (Abraded Wound)        :           5 orang
c)    Penderita luka bakar (Combustio)                 :           5 orang
d)   Penderita luka gores (Lacerated Wound)      :           5 orang

C.      Prosedur Penelitian
1.    Studi pustaka (Library Research)
Studi pustaka dilakukan untuk mengetahui dan memahami tentang klasifikasi, khasiat, kandungan enzim bromelain dan morfologi tanaman nanas yang meliputi : habitat, batang, daun, bunga, akar, kulit, dan rhizoma serta menjelaskan tentang pengertian luka, janis-jenis, fase penyembuhan dll
2.    Metode Wawancara (interview)
Yaitu dengan mengadakan wawancara kepada para informan yang telah ditentukan untuk mengetahui dan memahami tentang penggunaan kulit nanas yang mengandung enzim bromelain dalam menyembuhkan penyakit secara empiris di masyarakat.
3.    Observasi
Pengamatan  di lapangan dilakukan secara langsung. Faktor-faktor yang di amati adalah  jangka waktu penyembuhan  untuk tiap penyakit.

D.   Alat dan Bahan
1.    Set steril yang terdiri atas :
a. Pembungkus
b. Kapas atau kasa untuk membersihkan luka
c. Tempat untuk larutan
d. Larutan anti septic
e. 2 pasang pinset
2.    Kulit nanas      :           Secukupnya
3.    Air                   :           500 ml
4.    Cobek              :           1 buah
5.    Baskom           :           1 buah
6.    Handuk mandi            :           1 buah
                 
E.   Cara Kerja
1.         Menyiapkan alat dan bahan penelitian.
2.         Menjelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jawab pertanyaan pasien.
3.         Menjaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4.         Bantu penderita untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bukan hanya pada daerah luka, menggunakan selimut mandi untuk menutup penderita.
5.         Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Bisa dipasang pada sisi tempat tidur.
6.         Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset ujungnya labih rendah daripada pegangannya. Gunakan satu kapas satu kali mengoles, bersihkan dari insisi kearah drain :
a.                   Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar.
b.                  Jika ada drain bersihkan sesudah insisi.
c.                   Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer, bersihkan dari tengah luka kearah luar, gunakan pergerakan melingkar.
7.         Mencuci kulit nanas.
8.         Menumbuk halus kulit nanas.
9.         Membalurkan pada luka yang terbakar dengan ramuan tersebut.
10.     Merapikan ramuan kulit nanas yang dibalurkan pada luka.
11.     Mencuci tangan.














BAB  IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.      Ekstrak atau Penumbukan
Proses penumbukan ini dilakukan untuk mempermudah pekerjaan dalam pemperhalus  tekstur dari kulit nanas. Pembuatan ramuan dari kulit nanas yang mengandung enzim bromelain  sama halnya seperti ramuan herbal yang lain. Pembuatan ramuan yang masih tradisional akan menghindari dari percampuran zat –zat kimia yang sebenarnya tanpa kita sadari merugikan organ dalam tubuh kita.
B.       Enzim Bromelain pada Kulit Nanas dapat Mengobati Luka.
Dari hasil penelitian enzim bromelain pada kulit nanas memiliki khasiat penyembuhan yang efektif seperti obat kimia. Dalam penyakit luka luar yang telah kami teliti, responden menyatakan bahwa penyembuhannya berlangsung cukup singkat yaitu antara 1-4 minggu. Dalam hal ini keefektifannya telah menyamai obat kimia yang biasa di konsumsi oleh masyarakat.
C.      Jangka Waktu Penyembuhan
Dari hasil pengujian jangka waktu penyembuhannya, didapatkan hasil dari seluruh responden  yang ada menyatakan bahwa alternative herbal enzim bromelain pada kulit nanas benar memiliki kefektifan dalam penyembuhan terutama terhadap penyembuhan luka luar.
D.      Variasi yang Paling Cepat Masa Penyembuhan
No
Nama Responden
Luka yang diderita
Lama penyembuhan
2
Sutejo
Luka insisi
29 hari
2
Andre
Luka insisi
27 hari
3
Muthiah
Luka insisi
30 hari
4
Rizal
Luka insisi
25 hari
5
Fatikhi
Luka insisi
28 hari
6
Nur Hayati
Luka lecet
3 hari
7
Dadang
Luka lecet
2 hari
8
Anik
Luke lecet
3 hari
9
Lesi
Luka lecet
3 hari
10
Warjono
Luka lecet
2 hari
11
Hendro
Luka gores
4 hari
12
Slamet
Luka gores
5 hari
13
Sunarmi
Luka gores
5 hari
14
Trisnawati
Luka gores
6 hari
15
Akmad
Luka gores
5 hari
16
Dedi
Luka bakar
11 hari
17
Revan
Luka bakar
12 hari
18
Agung
Luka bakar
10 hari
19
Musfik
Luka bakar
14 hari
20
Dian
Luka bakar
13 hari











BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.         Kulit nanas yang dianggap sampah oleh sebagian masyarakat ternyata dapat dimanfaatkan, yang salah satunya adalah sebagain alternatif obat luka luar karena mengandung enzim bromelain.
2.         Kulit nanas yang mengandung enzim bromelain dapat dijadikan obat herbal yaitu obat luka luar yang tidak menyertakan efek samping yang berarti. Dari hasil pengujian jangka waktu penyembuhannya, didapatkan hasil dari seluruh responden  yang ada menyatakan bahwa alternative herbal enzim bromelain pada kulit pisang benar memiliki keefektifan dalam penyembuhan terutama terhadap penyembuhan luka luar.
B.       Saran
1.         Perlu diadakan penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan limbah berupa kulit nanas, sehingga limbah tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
2.         Perlu diteliti lebih lanjut mengenai zat yang terkandung didalam kulit nanas.
3.         Perlu adanya publikasi ke masyarakat luas mengenai hasil-hasil penelitian tepat guna.





DAFTAR PUSTAKA
Afif HM, dkk. 2006. Bunga Rampai Karya Tulis Ilmiah Siswa Madrasah Aliyah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama.
Anbiya, Fatya Permata.2010.Panduan EYD dan Tata Bahasa Indonesia.Jakarta: Transmedia Pustaka.
Arisandi, Yohana.2008. Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah.
Hariana, Arief. 2009. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 3. Jakarta: Penebar Swdaya.
http://cholidalfayed.blogspot.com/2011/12/beberapa-manfaat-nanas-bagi-kesehatn.html- Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Nanas- Dikunjungi pada tanggal 20 Desember 2011
http://rocky16amelungi.wordpress.com/Sejarah,Klasifikasi Dan Morfologi Nanas/ Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011-12-24
http://translate.google.co.id/ http://en.wikipedia.org/wiki/Bromelain- Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011
http://www.google.com/Ismail,S.Kep, Ns, M.Kes/ Luka dan Perawatannya- Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011
Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pemberdayaan Lingkungan. 2000. Pemanfaatan tumbuh-tumbuhan alami untuk Kesehatan dan Pengobatan Alternatif. Kendal: LP3L Jaya Madani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar