PEMANFAATAN ENZIM BROMELAIN PADA LIMBAH
KULIT NANAS (Ananas comosus (L.)Merr)
SEBAGAI ALTERNATIF OBAT LUKA
LUAR
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa
Indonesia

Disusun
oleh :
Devi Oktaviani 4501.0311.A.006
Devi Yulia 4501.0311.A.007
Irma Syahidatul Fitriyah 4501.0311.A.044
Levi Sahara 4501.0311.A.016
Melisa Sumalenda 4501.0311.A.017
Naipah 4501.0311.A.018
Nely Istiqomah 4501.0311.A.021
Rika Rosdiana 4501.0311.A.031
Wiwi Windayani 4501.0311.A.041
Wiwin Widianingsih 4501.0311.A.042
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
PROGRAM
STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat & hidayah-Nya sehingga karya tulis ilmiah dengan judul “ Pemanfaatan Enzim Bromelain
pada Limbah Kulit Nanas (Ananas
comosus (l.)Merr) Sebagai Alternatif Obat Luka Luar” selesai tepat pada waktunya. Sholawat dan salam semoga terlimpah keharibaan
beliau Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan cahaya islam.
Penyusunan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Karya tulis ilmiah ini dapat penyusun selesaikan berkat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh sebab itu, dalam kesempatan yang baik ini, penyusun menyampaikan
terima kasih kepada:
1.
Kedua orang tua kami
yang telah memberi dorongan sekaligus membantu dalam proses penyelesaian karya
tulis ilmiah ini baik secara moriil maupun materil.
2.
Moh. Sadli, SKM,
MM.Kes. sebagai ketua STIKes Cirebon.
3.
Nova Lusiana, S.ST, M.
Keb. Sebagai ketua program studi D III Kebidanan STIKes Cirebon.
4.
Drs. Agus Satori sebagai
pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia.
5.
Semua rekan-rekan yang
telah membantu penyusun dalam mengumpulkan data.
Kami menyadari
bahwasanya karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan yang disebabkan
terbatasnya kemampuan Kami,
untuk itu Kami mengharapkan
kritik & saran yang bersifat konstruktif sehingga dapat menyempurnakan karya
tulis ilmiah ini.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Cirebon, Desember 2011
Penyusun,
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................... ii
Abstrak...................................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN....................................................................................... 1
- Latar belakang............................................................................................... 1
- Rumusan masalah.......................................................................................... 2
- Tujuan penelitian............................................................................................ 2
- Hipotesa penelitian........................................................................................ 3
- Manfaat penelitian......................................................................................... 3
BAB
II. KAJIAN TEORI......................................................................................... 4
- Nanas............................................................................................................. 4
- Luka…........................................................................................................... 23
BAB
III. METODOLOGI PENELITIAN…........................................................... 39
A.. Waktu dan Lokasi Penelitian......................................................................... 39
B.. Sampel
Penelitian........................................................................................... 39
C.. Prosedur Penelitian........................................................................................ 39
D.. Alat dan
Bahan….......................................................................................... 40
E... Cara Kerja...................................................................................................... 40
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................................... 42
- Ekrtrak atau penumbukan.............................................................................. 42
- Enzim Bromelain pada Kulit Nanas Dapat Mengobati Luka........................ 42
- Jangka Waktu Penyembuhan......................................................................... 42
- Variasi yang Paling Cepat Masa Penyembuhan............................................. 42
BAB
V. PENUTUP….............................................................................................. 44
- Kesimpulan…................................................................................................ 44
- Saran….......................................................................................................... 44
Daftar
Pustaka........................................................................................................... 45
PEMANFAATAN ENZIM BROMELAIN
PADA LIMBAH KULIT NANAS (Ananas comosus (L.)Merr)
SEBAGAI ALTERNATIF
OBAT LUKA LUAR
Abstrak
Usaha manusia
dalam memenuhi kebutuhannya atau dalam melakukan proses produksi hampir
dipastikan akan menghasilkan limbah dan dan menimbulkan pencemaran. Penanganan
dan pengendalian limbah harus disertai upaya pemanfaatannya, sehingga menghemat
biaya operasi dan menghasilkan nilai tambah. Oleh sebab itu, diperlukan
usaha-usaha untuk menemukan cara pengendalian limbah secara ekonomis dan
efektif sebagai salah satu tindakan peduli terhadap lingkungan. Masyarakat
tidak menggunakan kulit nanas karena menganggapnya sampah. Hal inilah yang
membuat penulis tergerak untuk memanfaatkan kulit nanas yang juga mengandung
enzim bromelain sebagai alternatif obat luka dan pembengkakan/peradangan dalam
tubuh. Ini didasari pertimbangan bahwa kulit nanas pada saat ini belum
dimanfaatkan secara nyata, selain juga mengurangi dampak adanya limbah yang
berupa kulit nanas.
Bromelain diekstrak dari
batang nanas. Ia memiliki sejarah rakyat dan penggunaan obat modern. Sebagai
suplemen itu diperkirakan memiliki efek anti-inflamasi. Sebagai bahan kuliner
ini terutama digunakan sebagai pelunak suatu. Bromelain juga mengandung zat
kimia yang dapat mengganggu pertumbuhan sel tumor dan memperlambat pembekuan
darah, menurut penelitian laboratorium saja.
Dari hasil
penelitian yang kami lakukan, maka diketahui bahwa kulit nanas yang mengandung enzim bromelain dapat dijadikan obat herbal yaitu obat luka luar yang tidak menyertakan efek samping yang berarti.
Dari hasil pengujian jangka waktu penyembuhannya, didapatkan hasil dari seluruh
responden yang ada menyatakan bahwa
alternative herbal enzim bromelain pada kulit pisang benar memiliki keefektifan
dalam penyembuhan terutama terhadap penyembuhan luka luar.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai
makhluk hidup di dunia ini, manusia pasti melakukan proses produksi. Usaha
manusia dalam memenuhi kebutuhannya atau dalam melakukan proses produksi hampir
dipastikan akan menghasilkan limbah dan dan menimbulkan pencemaran. Akan
tetapi, pencemaran yang disebabkan oleh limbah tersebut sesungguhnya dapat
dihindari mengingat proses kehidupan manusia menyangkut perubahan-perubahan
kimia yang dapat dikendalikan. Oleh karena itu, kita dapat membantu untuk
mengelola limbah dan mengurangi beban lingkungan dalam mendukung kegiatan kita.
Penanganan dan pengendalian limbah harus
disertai upaya pemanfaatannya, sehingga menghemat biaya operasi dan
menghasilkan nilai tambah. Oleh sebab itu, diperlukan usaha-usaha untuk
menemukan cara pengendalian limbah secara ekonomis dan efektif sebagai salah
satu tindakan peduli terhadap lingkungan.
Negara Indonesia adalah negara agraris yang
mempunyai tanah subur dan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah
bertani dan bercocok tanam. Tanah di Indonesia dapat ditanami berbagai macam
jenis tanaman, seperti jenis tanaman pangan, palawija, buah-buahan, dan lain
sebagainya. Salah satu dari limbah tersebut adalah kulit nanas.
Buah nanas dapat diolah menjadi berbagai
jenis makanan atau minuman. Dalam proses pengolahan nanas menjadi berbagai
macam jenis makanan ataupun minuman pasti akan menghasilkan limbah yang dapat
mencemari lingkungan. Salah satu dari limbah itu adalah kulit nanas.
Kulit nanas apabila dibiarkan atau tidak
dimanfaatkan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu dari
pencemaran adalah pencemaran udara. Karena kulit nanas yang dibiarkan akan
membusuk dan menimbulkan bau yang sangat tidak enak. Di samping itu, jika
dibiarkan dan tidak segera dibersihkan
juga akan mengganggu pandangan orang yang melihatnya dan membuat lingkungan
menjadi kotor dan akan menjadi sumber penyakit.
Oleh karena itu, perlu dikaji uaya untuk
meminimalkan pencemaran yang disebabkan oleh limbah kulit nanas tersebut dengan
cara memanfaatkannya Karena ternyata nanas mengandung suatu enzim yang disebut
enzim bromelain yang dapat membantu penyembuhan luka dan mengurangi
pembengkakan/peradangan di dalam tubuh.
Masyarakat tidak menggunakan kulit nanas
karena menganggapnya sampah. Hal inilah yang membuat penulis tergerak untuk
memanfaatkan kulit nanas yang juga mengandung enzim bromelain sebagai
alternatif obat luka dan pembengkakan/peradangan dalam tubuh. Ini didasari
pertimbangan bahwa kulit nanas pada saat ini belum dimanfaatkan secara nyata,
selain juga mengurangi dampak adanya limbah yang berupa kulit nanas.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.
Apakah terdapat cara yang mudah dalam menanggulangi limbah berupa kulit
nanas.
2.
Apakah ada pengaruh enzim
Bromelain yang terdapat pada kulit nanas dalam mengobati luka luar pada tubuh.
C. Tujuan
Secara umum penelitian bertujuan untuk
mengetahui alternatif pemanfaatan limbah kulit nanas untuk proses dalam
mengobati luka dan pembengkakan/peradangan dalam tubuh. Secara khusus,
penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Untuk mengetahui apakah terdapat cara yang mudah dalam menanggulangi
limbah berupa kulit nanas.
2.
Untuk mengetahui apakah ada
pengaruh enzim Bromelain yang terdapat pada kulit nanas dalam mengobati luka luar pada tubuh.
D. Hipotesa Penelitian
1.
Terdapat cara mudah untuk menanggulangi limbah berupa kulit nanas, yaitu
dengan cara memanfaatkannya dalam proses pengobatan luka dan
pembengkakan/peradangan dalam tubuh.
2.
Enzim
Bromelain yang terdapat pada kulit nanas dapat dimanfaatkan dalam proses pengobatan luka luar pada tubuh.
E. Manfaat
1.
Memberi informasi baru tentang pemanfaatan limbah kulit nanas.
2.
Mengurangi adanya pencemaran lingkungan akibat kulit nanas.
3.
Data penelitian ini merupakan informasi yang cukup penting dalam dunia
ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bidang obat-obatan atau farmasi.
4.
Dapat digunakan sebagai sumber referensi untuk pengajaran topik-topik
tentang ilmu kesehatan yang berhubungan dengan konsep pengobatan baik di
sekolah maupun yayasan menggunakan pendekatan lingkungan dan muatan lokal.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. Nanas
1. Sejarah Tanaman
Nanas berasal dari
Amerika Selatan, tepatnya di Brasil. Tanaman ini telah dibudidayakan penduduk
pribumi disana sejak lama. Kemudian pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas
ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15,
(1599).
2. Klasifikasi dan Morfologi
Dalam klasifikasi
atau sistematika tumbuhan (taksonomi), nanas termasuk dalam famili
bromiliaceae. Kerabat dekat spesies nanas cukup banyak, terutama nanas
liar yang biasa dijadikan tanaman hias, misalnya A. braceteatus (Lindl)
Schultes, A. Fritzmuelleri, A. Adapun secara lengkap, klasifikasi
tanaman Nanas adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
(tumbuh-tumbuhan)
Divisi
: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Kelas
: Angiospermae (berbiji tertutup)
Ordo
: Farinosae (Bromeliales)
Famili
: Bromiliaceae
Genus
: Ananas
Species
: Ananas
comosus (L) Merr.
Tanaman nanas
berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan (perennial). Tanaman nanas
terdiri dari akar, batang, daun, batang, bunga, buah dan tunas-tunas. Akar
nanas dapat dibedakan menjadi akar tanah dan akar samping, dengan sistem
perakaran yang terbatas Akar-akar melekat pada pangkal batang dan termasuk
berakar serabut (monocotyledonae). Kedalaman perakaran pada media tumbuh
yang baik tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di tanah biasa jarang mencapai
kedalaman 30 cm .
Batang tanaman nanas
berukuran cukup panjang 20-25 cm atau lebih, tebal dengan diameter 2,0 -3,5 cm,
beruas-ruas (buku-buku) pendek. Batang sebagai tempat melekat akar, daun
bunga, tunas dan buah, sehingga secara visual batang tersebut tidak nampak
karena disekelilingnya tertutup oleh daun. Tangkai bunga atau buah
merupakan perpanjangan batang .
Daun nanas panjang,
liat dan tidak mempunyai tulang daun utama. Pada daunnya ada yang tumbuh
dari duri tajam dan ada yang tidak berduri. Tetapi ada pula yang durinya
hanya ada di ujung daun. Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah
menghadap ujung daun .
Daun nanas tumbuh
memanjang sekitar 130-150 cm, lebar antara 3-5 cm atau lebih, permukaan daun
sebelah atas halus mengkilap berwarna hijau tua atau merah tua bergaris atau
coklat kemerah-merahan. Sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna
keputih-putihan atau keperak-perakan. Jumlah daun tiap batang tanaman
sangat bervariasi antara 70-80 helai yang tata letaknya seperti spiral, yaitu
mengelilingi batang mulai dari bawah sampai ke atas arah kanan dan kiri .
Nanas mempunyai
rangkaian bunga majemuk pada ujung batangnya. Bunga bersifat hermaprodit dan
berjumlah antara 100-200, masing-masing berkedudukan di ketiak daun pelindung.
Jumlah bunga membuka setiap hari, berjumlah sekitar 5-10 kuntum.
Pertumbuhan bunga dimulai dari bagian dasar menuju bagian atas memakan waktu
10-20 hari. Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan.
Pada umumnya pada
sebuah tanaman atau sebuah tangkai buah hanya tumbuh satu buah saja. Akan
tetapi, karena pengaruh lingkungan dapat pula membentuk lebih dari satu buah
pada satu tangkai yang disebut multiple fruit ( buah ganda). Pada ujung
buah biasanya tumbuh tunas mahkota tunggal, tetapi ada pula tunas yang tumbuh
lebih dari satu yang biasa disebut multiple crown (mahkota ganda).
3. Jenis atau Varietas Nanas
Berdasarkan habitat
tanaman, terutama bentuk daun dan buah dikenal 4 jenis golongan nanas, yaitu : Cayenne
(daun halus, tidak berduri, buah besar), Queen (daun pendek berduri
tajam, buah lonjong mirip kerucut), Spanyol/Spanish (daun panjang kecil,
berduri halus sampai kasar, buah bulat dengan mata datar) dan Abacaxi
(daun panjang berduri kasar, buah silindris atau seperti piramida). Varietas
kultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene
dan Queen. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat,
Puerte Rico, Mexico dan Malaysia. Golongan Abacaxi banyak ditanam di
Brazilia. Dewasa ini ragam varietas/kultivar nanas yang dikategorikan unggul
adalah nanas Bogor, Subang dan Palembang.
4. Syarat
Tumbuh
Daerah penyebaran
nanas ialah 300 LU dan 300 LS dari khatulistiwa.
Tanaman nanas memerlukan beberapa persyaratan iklim yang harus dipenuhi agar
dapat tumbuh baik. Faktor iklim ini mencakup curah hujan, ketinggian,
kelembapan, suhu dan cahaya matahari.
Pada umumnya tanaman
nanas ini toleran terhadap kekeringan serta memiliki kisaran curah hujan yang
luas sekitar 1000-1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman nanas tidak toleran
terhadap hujan salju karena rendahnya suhu. 0C.
Nanas tumbuh pada
daerah dataran rendah dengan ketinggian 100-200 m di atas permukaan laut. Di
daerah dataran tinggi, tanaman ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1200 m
dpl. Pertumbuhan optimum tanaman nanas antara 100-700 m dpl.
Kelembapan tanah yang
berlebihan pada awal pembungaan dapat menghambat pertumbuhan buah dan
menghasilkan daun yang berlebihan. Sedangkan kelembapan yang berlebihan pada
saat pembungaan akan menurunkan mutu. Suhu yang sesuai untuk budidaya tanaman
nanas adalah 29-32 0C, tetapi juga dapat hidup di lahan bersuhu
rendah sampai 10.
Tanaman nanas dapat
tumbuh dengan baik dengan cahaya matahari rata-rata 33-71% dari kelangsungan
maksimumnya, dengan angka tahunan rata-rata 2000 jam.
5. Kesuburan Tanah
Pada umumnya hampir
semua jenis tanah yang digunakan untuk pertanian cocok untuk tanaman
nanas. Meskipun demikian, lebih cocok pada jenis tanah yang mengandung
pasir, subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik serta kandungan kapur
rendah.
Kesuburan tanah dapat
meningkatkan produktivitas, oleh karenanya tanah yang digunakan untuk menanam
nanas sebaiknya memenuhi kriteria tanah subur. Tanah yang subur terdiri
atas hawa (udara) 25%, air 25 %, mineral 45%, dan bahan organic 5 %. Atas
dasar tersebut, maka kesuburan tanah dinilai atas dasar tinggi rendahnya kadar
mineral (unsur hara essensia makro dan mikro) dan mudah sukarnya mineral
diserap tanaman.
Derajat keasaman yang
cocok adalah dengan pH 4,5-6,5. Tanah yang banyak mengandung kapur (pH lebih
dari 6,5) menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan klorosis. Sedangkan tanah yang
asam (pH 4,5 atau lebih rendah) mengakibatkan penurunan unsur Fosfor, Kalium,
Belerang, Kalsium, Magnesium, dan Molibdinum dengan cepat.
6. Teknik Perbanyakan Tanaman.
Teknik perbanyakan
tanaman nanas dapat dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif. Cara
vegetatif dapat digunakan adalah tunas akar, tunas batang, tunas buah, mahkota
buah, stek batang dan dengan cara kultur in vitro. Cara kultur in
vitro biasanya digunakan untuk memproduksi bibit tanaman yang seragam dalam
jumlah besar. Sedangkan cara generatif dengan biji yang ditumbuhkan dengan
persemaian.Kualitas bibit yang baik harus berasal dari tanaman yang
pertumbuhannya normal, sehat serta bebas dari hama dan penyakit.
Cara perbanyakan
bibit tanaman nanas yang akan ditulis disini adalah dari bibit tunas
batang dan dari stek.
a.
Bibit
Tunas Batang.
Adapun
cara pembibitan dari tunas batang adalah sebagai berikut :
1). Memilih
tunas batang yang akan digunakan untuk pembibitan. Tanaman nanas dalam keadaan
sedang berbuah atau telah dipanen. Tunas batang yang baik adalah panjang 30-35
cm.
2). Kemudian memotong daun-daun dekat pangkal pohon,
untuk mengurangi penguapan dan mempermudah pengangkutan, setelah itu biarkan
selama beberapa hari di tempat teduh dan bibit siap angkut ke tempat penanaman
langsung segera ditanam.
b.
Bibit
Nanas dari Stek.
Adapun cara pembibitan dari stek adalah sebagai
berikut :
1). Memotong batang nanas yang sudah dipanen
buahnya sepanjang 2,5 cm.
2). Membelah potongan menjadi 4 bagian yang
mengandung mata tunas.
3). Potongan-potongan tersebut disemaikan dalam
media pasir bersih.
4). Setelah 3,5 bulan, bibit akan mencapai
ketinggian 25-35 cm. maka bibit bisa langsung ditanam di kebun
7. Pembibitan Tanaman.
Adapun tahap-tahap
pembibitan tanaman nanas adalah sebagai berikut :
1)
Persemaian
Tanaman.
Persemaian untuk nanas memerlukan perlakuan khusus.
Langkah dalam menyiapkan media semai dalam bak persemaian berupa tepung
(misalnya Rootone) pada permukaan belahan batang untuk mempercepat pertumbuhan
akar. Belahan batang pada bak persemaian disemaikan sedalam 1,5 – 2,5 cm dan
jarak tanam 5-10 cm. Kondisi media persemaian dijaga agar tetap lembab dan
sirkulasi udara baik, dengan menutup bak persemaian dengan lembar plastic
tembus cahaya (bening).
Stek batang nanas dibiarkan bertunas dan berakar.
Tempat persemaian baru yang medianya disuburkan dengan pupuk kandang disiapkan.
Campuran media berupa tanah halus, pasir dan pupuk kandang halus (1:1:1) atau
pasir dengan pupuk kandang halus (1:1). Langkah terakhir adalah
memindahtanamkan bibit nanas dari persemaian perkecambahan ke persemaian
pembesaran bibit.
2)
Pemeliharaan
Bibit
Pemeliharaan pembibitan/persemaian penyiraman
dilakukan secara berkala dijaga agar kondisi media tanam selalu lembab dan
tidak kering supaya bibit tidak mati. Pemupukan dilakukan dengan pemberian
pupuk kandang dengan perbandingan kadar yang sudah ditentukan. Penjarangan dan
pemberian pestisida dapat dilakukan jika diperlukan.
3)
Pemindahan
Bibit
Pemindahan bibit dapat dilakukan jika ukuran tinggi
bibit mencapai 25-30 cm atau berumur 3-5 bulan
8. Penanaman Tanaman.
1). Pengolahan Media Tanam
a) Persiapan
Penanaman nanas dapat dilakukan pada lahan tegalan
atau ladang. Waktu persiapan dan pembukaan lahan yang paling baik adalah disaat
waktu musim kemarau, dengan membuang pepohonan yang tidak diperlukan.
Pengolahan tanah dapat dilakukan pada awal musim hujan. Derajat keasaman tanah
perlu diperhatikan karena tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik pada pH sekitar
5,5. Jumlah bibit yang diperlukan untuk suatu lahan tergantung dari jenis
nanas, tingkat kesuburan tanah dan ekologi pertumbuhannya.
b) Pembukaan Lahan
Untuk membuka suatu lahan, perlu dilakukan: membuang
dan membersihkan pohon-pohon atau batu-batuan dari sekitar lahan kebun ke
tempat penampungan limbah pertanian. Mengolah tanah dengan dicangkul/dibajak
dengan traktor sedalam 30-40 cm hingga gembur, karena, bisa berakibat fatal
pada produksi tanaman. Biarkan tanah menjadi kering minimal selama 15 hari agar
tanah benar-benar matang dan siap ditanami.
c) Pembentukan Bedengan
Pembentukan bedengan dapat dilakukan bersamaan dengan
pengolahan tanah untuk kedua kalinya yang sesuai dengan sistem tanam yang
dipakai. Sistem petakan cukup dengan cara meratakan tanah, kemudian di
sekililingnya dibuat saluran pemasukan dan pembuangan air. Sistem bedengan
dilakukan dengan cara membuat bedengan-bedengan selebar 80-120 cm, jarak antar
bedengan 90-150 cm atau variasi lain sesuai dengan sistem tanam. Tinggi petakan
atau bedengan adalah antara 30-40 cm.
d) Pengapuran
Derajat kemasaman tanah yang sesuai untuk tanaman
nanas adalah 4,5-6,5. Pengapuran tanah dilakukan dengan Calcit atau Dolomit
atau Zeagro atau bahan kapur lainnya dengan cara ditaburkan merata dan
dicampurkan dengan lapisan tanah atas terutama tanah-tanah yang bereaksi asam
(pH dibawah 4,5). Dosis kapur disesuaikan dengan pH tanah, namun umumnya
berkisar antara 2-4 ton/ha. Bila tidak turun hujan, setelah pengapuran segera
dilakukan pengairan tanah agar kapur cepat melarut.
e) Pemupukan
Dalam penanaman nanas dilakukan pemberian pupuk
kandang dengan dosis 20 ton per hektar. Cara pemberian: dicampurkan merata
dengan lapisan tanah atas atau dimasukkan per lubang tanam. Juga digunakan
pupuk anorganik NPK dan urea. Nitrogen (N) sangat diperlukan untuk pertumbuhan
tanaman, fosfor diperlukan selama beberapa bulan pada awal pertumbuhan
sedangkan Kalium diperlukan untuk perkembangan buah, khususnya nanas. Pupuk
urea penggunaannya dikombinasikan dengan perangsang pembungaan.
2). Teknik
Penanaman
a) Penentuan
Pola Tanam
Pola tanam merupakan pengaturan tata letak tanaman dan
urutan jenis tanaman dengan waktu tertentu, dalam kurun waktu setahun. Dalam
teknik penanaman nanas ada beberapa sistem tanam, yaitu: sistem baris tunggal
atau persegi dengan jarak tanam 150 x 150 cm baik dalam maupun antar barisan;
90 x 30 cm jarak dalam barisan 30 cm, dan jarak antar barisan adalah 90 cm.
Sistem baris rangkap dua dengan jarak tanam 60 x 60 cm, dan jarak antar barisan
sebelah kiri dan kanan dari 2 barisan adalah 150 cm dan jarak tanam 45 x 30 cm,
dan jarak antar barisan tanaman sebelah kiri dan kanan dari 2 barisan tanaman
adalah 90 cm. Sistem baris rangkap tiga dengan jarak tanam 30 x 30 cm membentuk
segitiga sama sisi dengan jarak antar barisan sebelah kiri/ kanan dari 3
barisan tanaman: 90 cm dan jarak tanam 40 x 30 cm dengan jarak antar barisan
sebelah kiri/kanan dari 3 barisan adalah 90 cm serta sisitem baris rangkap
empat dengan jarak 30 x 30 cm dan jarak antar barisan sebelah kiri/kanan dari 4
barisan tanaman 90 cm.
b) Pembuatan
Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam pada jarak tanam yang dipilih
sesuai dengan system tanam. Ukuran lubang tanam: 30 x 30 x 30 cm. Untuk membuat
lubang tanam digunakan pacul, tugal atau alat lain.
c) Cara
Penanaman
Penanaman yang baik dilakukan pada awal musim hujan.
Langkah-langkah yang dilakukan:
(1) membuat
lubang tanam sesuai dengan jarak dan sistem tanam yang dipilih;
(2) mengambil
bibit nanas sehat dan baik dan menanam bibit pada lubang tanam yang tersedia masing-masing
satu bibit per lubang tanam;
(3) tanah
ditekan/dipadatkan di sekitar pangkal batang bibit nanas agar tidak mudah roboh
dan akar tanaman dapat kontak langsung dengan air tanah;
(4) dilakukan
penyiraman hingga tanah lembab dan basah;
(5) penanaman
bibit nanas jangan terlalu dalam, 3-5 cm bagian pangkal batang tertimbun tanah
agar bibit mudah busuk.
3). Pemeliharaan
Tanaman
a) Penjarangan
dan Penyulaman
Penjarangan nanas tidak dilakukan karena tanaman nanas
spesifik dan tidak berbentuk pohon. Kegiatan penyulaman nanas diperlukan, sebab
ceding-ceding bibit nanas tidak tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau
faktor bibit.
b) Penyiangan
Penyiangan diperlukan untuk membersihkan kebun nanas
dari rumput liar dan gulma pesaing tanaman nanas dalam hal kebutuhan air, unsur
hara dan sinar matahari. Rumput liar sering menjadi sarang dari dan penyakit.
Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan rumput liar di kebun, namun untuk
menghemat biaya penyiangan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemupukan. Cara
penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput dengan
tangan/kored/cangkul. Tanah di sekitar bedengan digemburkan dan ditimbunkan
pada pangkal batang nanas sehingga membentuk guludan.
c) Pembubunan
Pembubunan diperlukan dalam penanaman nanas, dilakukan
pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya
mengambil tanah dari selokan atau parit di sekeliling bedengan, agar bedengan
menjadi lebih tinggi dan parit menjadi lebih dalam, sehingga drainase menjadi
normal kembali. Pembubunan berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah dan akar
yang keluar di permukaan tanah tertutup kembali sehingga tanaman nanas berdiri
kuat.
d) Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan
dengan pupuk buatan. Pemupukan susulan berikutnya diulang tiap 3-4 bulan sekali
sampai tanaman berbunga dan berbuah. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan
adalah:
a) Pupuk NPK tablet (Pamafert)
Bentuk pupuk berupa tablet, berat 4 gram setiap
tablet. Dosis anjuran satu tablet tiap tanaman
b) Pupuk tunggal berupa campuran ZA, TSP, atau
SP-36 dan KCl
1. Dosis anjuran 1: ZA 100 kg + TSP atau SP-36 60
kg + KCl 50 kg per hektar. Pupuk susulan diulang setiap 4 bulan sekali dengan
dosis yang sama.
2. Dosis anjuran 2: mulai umur 3 bulan setelah
tanam dipupuk dengan ZA 125 kg atau urea 62,5 kg + TSP atau SP-36 75 kg/ha.
Pada umur 6 Bulan dipupuk kandang 10 ton/ha.
Cara pemberian pupuk dibenamkan/dimasukkan ke dalam
parit sedalam 10-15 cm diantara barisan tanaman nanas, kemudian tutup dengan
tanah. Cara lain: disemprotkan pada daun terutama pupuk Nitrogen dengan dosis
40 gram Urea per liter atau ± 900 liter larutan urea per hektar.
e) Pengairan dan Penyiraman
Sekalipun tanaman nanas tahan terhadap iklim kering,
namun untuk pertumbuhan tanaman yang optimal diperlukan air yan cukup.
Pengairan /penyiraman dilakukan 1-2 kali dalam seminggu atau tergantung keadaan
cuaca. Tanaman nanas dewasa masih perlu pengairan untuk merangsang pembungaan
dan pembuahan secara optimal. Pengairan dilakukan 2 minggu sekali. Tanah yang
terlalu kering dapat menyebabkan pertumbuhan nanas kerdil dan buahnya
kecil-kecil. Waktu pengairan yang paling baik adalah sore dan pagi hari dengan
menggunakan mesin penyemprot atau embrat.
9. Hama
a). Penggerek buah (Thecla basilides Geyer)
·
Ciri:
Kupu-kupu berwarna coklat dan kupu-kupu betina meletakkan telurnya pada
permukaan buah, kemudian menetas menjadi larva; bentuk larva pada bagian tubuh
atas cembung, bagian bawah datar dan tubuh tertutup bulu-bulu halus pendek.
·
Gejala:
Menyerang buah dengan cara menggerek/melubangi daging buah; buah nanas yang
diserang hama ini berlubang dan mengeluarkan getah, kemudian membusuk karena
diikuti serangan cendawan atau bakteri.
·
Pengendalian:
(1) Non kimiawi dengan menjaga kebersihan kebun
serta membuang bagian tanaman yang terserang hama;
(2) Kimiawi dengan
menyemprot insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Basudin 60 EC atau
Thiodan 35 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
b). Kumbang (Carpophilus hemipterus L.)
·
Ciri:
Berupa kumbang kecil, berwarma coklat/hitam; larva berwarna putih kekuningan,
berambut tipis, bentuk langsing berkaki 6.
·
Gejala:
Menyerang tanaman nanas yang gluka sehingga bergetah dan busuk oleh
mikroorganisme lain (cendawan dan bakteri).
·
Pengendalian:
Dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dan pemberian insektisida.
c) Lalat buah (Atherigona sp.)
·
Ciri:
Lalat berukuran kecil, meletakkan telur pada bekas luka bagian buah, kemudian
menjadi larva berwarna putih.
·
Gejala:
merusak/ memakan daging buah hingga menyebabkan busuk lunak.
·
Pengendalian:
(1) non kimiawi dengan menjaga kebersihan kebun,
membuang buah yang terserang lalat buah;
(2) kimiawi dengan cara disemprot insektisida
yang mangkus dan sangkil, seperti Thiodan 35 EC atau Basudin EC pada
konsentrasi yang dianjurkan.
d) Thrips (Holopothrips ananasi Da Costa
Lima)
·
Ciri:
Tubuh thrips berukuran sangat kecil panjang sekitar 1,5 mm, berwarna coklat,
dan bermata besar.
·
Gejala:
menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan sel daun sehingga menimbulkan
bintik-bintik berwarna perak; pada tingkat serangan yang berat menyebabkan
pertumbuhan tanaman muda terhambat.
·
Pengendalian:
(1) secara non kimiawi dapat dilakukan dengan
menjaga kebersihan kebun dan mengurangi ragam tanaman inang;
(2) secara kimiawi
dilakukan dengan penyemprotan insektisida: Mitac 200 EC atau Dicarol 25 SP pada
konsentrasi yang dianjurkan.
e) Sisik (Diaspis bromeliae Kerne)
·
Ciri:
Serangga berukuran kecil diameter ± 2,5 mm, bulat dan datar, berwarna putih
kekuningan/keabu-abuan, bergerombol menutupi buah dan daun, sehingga
menyebabkan ukuran buah kecil dan pertumbuhan tanaman terhambat.
·
Pengendalian:
Dapat disemprot dengan insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron 500 EC pada
konsentrasi yang dianjurkan.
f) Ulat buah (Tmolus echinon L)
·
Ciri:
Serangga muda/dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat serta larva/ulat tertutup
rambut halus dan kepalanya kecil.
·
Gejala:
menyerang buah nanas dengan cara menggerek dan membuat lubang yang menyebabkan
buah berlubang, bergetah dan sebagian buah memotong bagian tanaman yang
terserang berat.
·
Pengendalian
: dilakukan dengan mengumpulkan/membunuh ulat secara mekanis, serta disemprot
insektisida: Buldok 25 EC atau Thiodan 35 EC pada konsentrasi yang dianjurkan
g) Hama lain: rayap, tikus, nematoda, bintil
akar dan kutu tepung jeruk juga kadang- kadang menyerang tanaman nanas.
10. Penyakit
1). Busuk hati dan busuk akar
·
Penyebab:
Cendawan Phytophthora parasitica Waterh dan P. cinnamomi Rands.
Penyakit busuk hati disebut hearth rot, sedangkan busuk akar dinamakan root
rot. Penyebaran penyakit dibantu bermacam-macam tanaman inang, air yang
mengalir, alat-alat pertanian, curah hujan tinggi, tanah yang mengandung bahan
organik dan kelembaban tanah tinggi antara 25-35 oC.
·
Gejala:
Pada daun terjadi perubahan warna menjadi hijau belang-belang kuning dan
ujungnya nekrotis; daun-daun muda mudah dicabut bagian pangkalnya membusuk
dengan bau busuk berwarna coklat, dan akhirnya tanaman mati; pembusukan pada
system perakaran.
·
Pengendalian:
(1) non kimiawi dilakukan dengan cara perbaikan
drainase tanah, mengurangi kelembapan sekitar kebun, dan memotong/mencabut
tanaman yang sakit;
(2) kimiawi dengan
pencelupan bibit dalam larutan fungisida sebelum tanam, seperti Dithane M-45
atau Benlate.
2) Busuk pangkal
·
Penyebab:
cendawan Thielaviopsis paradoxa (de Seyn) Hohn atau Ceratocystis paradoxa
(Dade) C. Moreu. Penyakit ini sering disebut base rot. Penyebaran penyakit
dibantu tanaman inangnya, adanya luka-luka mekanis pada tanaman, angin, hujan
dan tanah.
·
Gejala:
pada bagian pangkal batang, daun, buah dan bibit menampakkan gejala busuk lunak
berwarna coklat atau hitam, berbau khas, atau bercak-bercak putih
kekuning-kuningan.
·
Pengendalian:
(1) non kimiawi dengan melakukan penyimpanan
bibit sementara sebelum tanamn agar luka cepat sembuh, menanam bibit pada cuaca
kering, dan menghindari luka-luka mekanis;
(2) kimiawi dengan
perendaman bibit dalam larutan fungisida Benlate.
3) Penyakit Lain
·
Penyakit
adalah busuk bercak gabus pada buah disebabkan oleh cendawan Pinicillium
funiculosum Thom, busuk bibit oleh cendawan Pythium sp., layu dan
bercak kuning oleh virus yang belum diketahui secara pasti jenisnya.
·
Pengendalian:
Harus dilakukan secara terpadu, meliputi penggunaan bibit yang sehat, perbaikan
kultur teknik budidaya secara intensif, pemotongan/pencabutan dan pemusnahan
tanaman yang sakit.
11. Gulma
Penurunan produksi nanas dapat disebabkan oleh banyak
dan dominannya gulma karena pemberian mulsa yang kurang baik sehingga
pertumbuhan rumput subur.
12. Panen
a) Ciri dan Umur Panen
Panen buah nanas dilakukan setelah nanas berumur 12-24
bulan, tergantung dari jenis bibit yang digunakan. Bibit yang berasal dari
mahkota bunga berbuah pada umur 24 bulan, hingga panen buah setelah berumur 24
bulan. Tanaman yang berasal dari tunas batang dipanen setelah umur 18 bulan,
sedangkan tunas akar setelah berumur 12 bulan. Ciri-ciri buah nanas yang siap
dipanen:
Ø
Mahkota
buah terbuka.
Ø
Tangkai
ubah mengkerut.
Ø
Mata
buah lebih mendatar, besar dan bentuknya bulat.
Ø
Warna
bagian dasar buah kuning.
Ø
Timbul
aroma nanas yang harum dan khas.
b)
Cara
Panen
Tata cara panen buah nanas: memilih buah nanas yang
menunjukkan tanda-tanda siap panen. Pangkal tangkai buah dipotong secara
mendatar/miring dengan pisau tajam dan steril. Pemanenan dilakukan secara
hati-hati agar tidak rusak dan memar.
c)
Periode
Panen
Tanaman nanas dipanen setelah berumur 12-24 bulan.
Pemanenan buah nanas dilakukan bertahap sampai tiga kali. Panen pertama sekitar
25%, kedua 50%, dan ketiga 25% dari jumlah yang ada. Tanaman yang sudah berumur
4-5 tahun perlu diremajakan karena pertumbuhannya lambat dan buahnya kecil.
Cara peremajaan adalah membongkar seluruh tanaman nanas untuk diganti dengan
bibit yang baru. Penyiapan lahan sampai penanaman dilakukan seperti cara
bercocok tanam pada lahan yang baru.
d) Prakiraan Produksi
Potensi produksi per hektar pada tanaman nanas yang
dibudidayakan intensif dapat mencapai 38-75 ton/hektar. Pada umumnya rata-rata
20 ton/hektar, tergantung jenis nanas dan sistem tanam.
13. Pascapanen
Buah nanas termasuk komoditi buah yang mudah rusak,
susut dan cepat busuk. Oleh karena itu, setelah panen memerlukan penanganan
pascapanen yang memadai.
1.
Pengumpulan
Setelah panen dilakukan pengumpulan buah ditempat penampungan
hasil atau gudang sortasi.
2.
Penyortiran
dan Penggolongan
Kegiatan sortasi dimulai dengan memisahkan buah yang
rusak, memar, busuk, atau mentah secara tersendiri dari buah yang bagus dan
normal. Klasifikasi buah berdasarkan bentuk dan ukuran yang seragam, jenis
maupun tingkat kematangannya.
3.
Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan jika harga turun, sehingga untuk
menunggu harga naik maka dilakukan penyimpanan. Buah nanas biasanya disimpan
dalam peti kemas dalam ruangan dingin yang suhunya sekitar 5oC.
4.
Pengemasan
dan Pengangkutan
Kegiatan pengemasan dimulai dengan mengeluarkan buah
nanas dari lemari pemeraman, lalu dipilih (sortasi) berdasarkan tingkat
kerusakannya agar seragam. Kemudian buah nanas dibungkus dengan kertas
pembungkus lalu dikemas dalam keranjang bambu atau peti kayu atau dos karton
bergelombang. Ukuran wadah pengemasan 60 x 30 x 30 cm yang diberi lubang
ventilasi. Proses pengangkutan dimulai dengan memasukkan peti kemas secara
teratur pada alat pengangkutan, buah nanas diangkut dan dipasarkan ke tempat
pemasaran.
14. Kandungan Bromelin Pada Tanaman
Nanas
Buah nanas mengandung enzim bromelain, (enzim protease
yang dapat menghidrolisa protein, protease atau peptide), sehingga dapat
digunakan untuk melunakkan daging.Enzim bromelain mencerna protein di dalam
makanan dan menyiapkannya agar mudah untuk diserap oleh tubuh. Nanas juga dapat
digunakan untuk mengempukkan daging. Selain kegunaan di atas, nanas mengandung
citric dan malic acid yang memberi rasa manis dan asam pada buahnya. Asam ini
membuat nanas menjadi bahan makanan yang digunakan secara luas untuk membuat
masakan asam manisBuah nanas banyak mengandung enzim bromelain, tapi kandungan
bromelain di dalam kulitnya lebih banyak lagi. Karena itu, jangan membuang
kulit nanas, karena bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengempuk alami. Enzim
bromelain mampu menguraikan serat-serat daging, sehingga daging menjadi lebih
empuk. (http://www.sedapsekejap.com/artikel/2001/edisi7/files/artikel.htm)
Protein “bromelain” memiliki potensi yang sama dengan
“papain” yang ditemukan pada pepaya yang dapat mencerna protein sebesar 1000
kali beratnya, sehingga nanas bermanfaat sebagai penghancur lemak. Bromelain
dapat membantu melarutkan pembentukan mukus dan juga mempercepat pembuangan
lemak melalui ginjal. Bromelain juga memiliki asam sitrat dan malat yang
penting dan diperlukan untuk memperbaiki proses pembuangan lemak dan mangan,
dan menjadi komponen penting enzim tertentu yang diperlukan dalam metabolisme
protein dan karbohidrat. .(Buletin Teknopro Hortikultura edisi 71 tahun 2004)
Bromelain diekstrak dari batang nanas. Ia memiliki sejarah
rakyat dan penggunaan obat modern. Sebagai suplemen itu diperkirakan memiliki
efek anti-inflamasi. Sebagai bahan kuliner ini terutama digunakan sebagai
pelunak suatu. Bromelain juga mengandung zat kimia yang dapat mengganggu
pertumbuhan sel tumor dan memperlambat pembekuan darah, menurut penelitian
laboratorium saja.
Bromelain dapat merujuk ke salah satu dari dua protease enzim
diekstraksi dari keluarga tanaman Bromeliaceae , atau dapat mengacu pada kombinasi dari orang-enzim
bersama dengan senyawa lain diproduksi di ekstrak.
Bromelin merupakan salah satu jenis enzim protease sulfhidril
yang mampu menghidrolisis ikatan peptida pada protein atau polipeptida menjadi
molekul yang lebih kecil yaitu asam amino. Bromelin ini berbentuk serbuk amori
dengan warna putih bening sampai kekuning-kuningan, berbau khas, larut sebagian
dalam: Aseton, Eter, dan CHCL3, stabil pada pH: 3,0 – 5,5. Suhu optimum enzim
bromelin adalah 50°C- 80°C.
Enzim ini terdapat pada tangkai, kulit, daun, buah,
maupun batang tanaman nanas dalam jumlah yang berbeda. Dilaporkan bahwa
kandungan enzim bromelin lebih banyak terdapat pada batang yang selama ini
kurang dimanfaatkan. Distribusi bromelin pada batang nanas tidak merata dan
tergantung pada umur tanaman. Kandungan bromelin pada jaringan yang umurnya
belum tua terutama yang bergetah sangat sedikit sekali bahkan kadang-kadang
tidak ada sama sekali. Sedangkan bagian tengah batang mengandung bromelin lebih
banyak dibandingkan dengan bagian tepinya.
Berdasarkan hasil penelitian Muniarti (2006) buah
nanas yang masih hijau atau belum matang ternyata mengandung bromelin lebih sedikit
dibanding buah nanas segar yang sudah matang. Penelitian yang lain menunjukkan
buah yang matang karena diperam memiliki kandungan yang lebih sedikit
dibandingkan buah yang masih hijau.
Buah nanas mengandung enzim bromelin, enzim tersebut
terdapat pada hati, kulit, dan tangkai nanas. Kandungan enzim bromelin pada
bagian-bagian buah bervariasi, kandungan bromelin pada masing-masing bagian
buah dapat dilihat pada tabel berikut ;
Kandungan Bromelain dalam Buah
Nanas (Murniati, 2006)
|
Bagian Buah
|
Jumlah
Bromelin (%)
|
|
Buah Utuh Masak
|
0,060-0,080
|
|
Daging Buah Masak
|
0,080-0,125
|
|
Kulit Buah
|
0,050-0,075
|
|
Tangkai Buah
|
0.040-0,060
|
|
Buah Utuh Matang
|
0.040-0,060
|
|
Daging Buah Mentah
|
0,050-0,070
|
Adapun kandungan gizi dari nanas menurut BPPHP adalah
sebagai berikut ;
|
No.
|
Kandungan gizi
|
Jumlah
|
|
1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 |
Kalori
Protein Lemak Karbohidrat Fosfor Zat Besi Vitamin A Vitamin B1 Vitamin C Air Bagian dapat dimakan |
52,00
kal
0,40 g 0,20 g 16,00 g 11,00 mg 0,30 mg 130,00 SI 0,08 mg 24,00 mg 85,30 g 53,00 |
15. Hal-hal yang perlu diwaspadai dalam nanas
Meskipun ada seabrek keuntungan dalam mengkonsumsi
nanas, namun ada beberapa hal yang perlu diwaspadai agar tidak terjerumus dalam
kessakitan atau penyesalan. Antara lain;
a. Kosumsi yang berlebihan dapat mengakibatkan keguguran
pada ibu hamil, karena enzim ini sering pula dimanfaatkan sebagai bahan
kontrasepsi Keluarga Berencana untuk memperjarang kehamilan.
b. Bagi beberapa orang, mengkonsumsi nanas terlalu banyak
dapat menyebabkan sakit kepala.
c. Nanas dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian
orang. Sebagian orang dapat merasakan gejala alergi seperti kulit menjadi merah
dan gatal setelah mengkonsumsi nanas.
d. Selain itu nanas juga dapat menyebabkan diare atau
mual pada sebagian orang. Hal ini dapat terjadi jika orang yang alergi terhadap
nanas mengkonsumsi nanas dalam jumlah besar.
B. Luka
1. Pengertian
Luka
Luka adalah suatu gangguan dari kondisi
normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit,
mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier, 1995). Ketika luka
timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
2. Jenis-Jenis Luka
Luka
sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan
menunjukkan derajat luka (Taylor, 1997).
·
Berdasarkan tingkat kontaminasi
a.
Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana
tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya
menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup
(misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b.
Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka
pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam
kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya
infeksi luka adalah 3% - 11%.
c.
Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh,
luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik
atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi
akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
d.
Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.
·
Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
a.
Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang
terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit
pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial
dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai
bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada
lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul
secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak
jaringan sekitarnya.
d.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot,
tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
·
Berdasarkan waktu penyembuhan luka
a.
Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
b.
Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses
penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.
·
Berdasarkan mekanisme terjadinya luka :
1.
Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang
tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya
tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi).
2.
Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan
dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3.
Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda
lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4.
Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti
peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.
Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti
oleh kaca atau oleh kawat.
6.
Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh
biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung
biasanya lukanya akan melebar.
7.
Luka Bakar (Combustio)
3. Penyembuhan Luka
Tubuh
yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya.
Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing
dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses
penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan
perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh,
melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu
untuk meningkatkan penyembuhan jaringan (Taylor, 1997).
·
Prinsip Penyembuhan Luka
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka
menurut Taylor (1997) yaitu:
(1)
Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya
kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang,
(2)
Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap
dijaga,
(3)
Respon tubuh secara sistemik pada trauma,
(4)
Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka,
(5)
Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk
mempertahankan diri dari mikroorganisme, dan
(6)
Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh
termasuk bakteri.
·
Fase Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari
kehidupan jaringan hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase
penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan
(Kozier,1995).
v
Menurut Kozier, 1995:
(1)
Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan
berakhir 3 – 4 hari. Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis
dan pagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi
pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin
(menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. Bekuan
darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang menjadi
kerangka bagi pengambilan sel. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka.
Bekuan dan jaringan mati, scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi
luka oleh mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke
tepi. Epitelial sel membantu sebagai barier antara tubuh dengan lingkungan dan
mencegah masuknya mikroorganisme. Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh
darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan
jaringan mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan
nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya daerah luka
tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama
neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag
yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka.
Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut
pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang
merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF
bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat
penting bagi proses penyembuhan
(2)
Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3
atau 4 sampai hari ke-21 setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel
jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah
pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut
proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi
protein yang menambah tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang
meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka
terbuka. Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis
irisan luka. Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang
memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan. Fibroblast
berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Seiring perkembangan
kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi
jaringan yang lunak dan mudah pecah.
(3)
Fase Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir
1-2 tahun setelah pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Kolagen
menjalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang lebih kuat. Bekas luka menjadi
kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih.
v
Menurut Taylor (1997):
(1)
Fase Inflamatory
Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan
dan berakhir hari ke 3 – 4 pasca operasi. Dua tahap dalam fase ini adalah
Hemostasis dan Pagositosis. Sebagai tekanan yang besar, luka menimbulkan lokal
adaptasi sindrom. Sebagai hasil adanya suatu konstriksi pembuluh darah,
berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih
untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. Lebih kurang 24 jam
setelah luka sebagian besar sel fagosit ( makrofag) masuk ke daerah luka dan
mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel pada
akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi.
(2)
Fase Proliferative
Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir
pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat mensintesis kolagen dan substansi
dasar. Dua substansi ini membentuk lapis lapis perbaikan luka. Sebuah lapisan
tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada didalamnya,
sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru
ini disebut granulasi jaringan, adanya pembuluh darah, kemerahan dan mudah
berdarah.
(3)
Fase Maturasi
Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari
ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 – 2 tahun setelah luka. Kollagen yang
ditimbun dalam luka diubah, membuat penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip
jaringan. Kollagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka,
sehingga bekas luka menjadi rata, tipis dan garis putih.
v
Menurut Potter (1998):
(1)
Devensive / Tahap Inflamatory
Dimulai ketika sejak integritas kulit
rusak/terganggu dan berlanjut hingga 4-6 hari. Tahap ini terbagi atas
Homeostasis, Respon inflamatori, Tibanya sel darah putih di luka. Hemostasis adalah
kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah, membawa platelet menghentikan
perdarahan. Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya
organisme infeksius. Respon inflammatory adalah saat terjadi peningkatan aliran
darah pada luka dan permeabilitas vaskuler plasma menyebabkan kemerahan dan
bengkak pada lokasi luka. Sampainya sel darah putih di luka melalui suatu
proses, neutrophils membunuh bakteri dan debris yang kemudian mati dalam
beberapa hari dan meninggalkan eksudat yang menyerang bakteri dan membantu
perbaikan jaringan. Monosit menjadi makrofag, selanjutnya makrofag membersihkan
sel dari debris oleh pagositosis, Meningkatkan perbaikan luka dengan
mengembalikan asam amino normal dan glukose. Epitelial sel bergerak dari dalam
ke tepi luka selama lebih kurang 48 jam.
(2)
Reconstruksion / Tahap Prolifrasi
Penutupan dimulai hari ke-3 atau ke-4 dari
tahap defensive dan berlanjut selama 2 – 3 minggu. Fibroblast berfungsi
membantu sintesis vitamin B dan C, dan asam amino pada jaringan kollagen.
Kollagen menyiapkan struktur, kekuatan dan integritas luka. Epitelial sel
memisahkan sel-sel yang rusak.
(3)
Tahap Maturasi
Tahap akhir penyembuhan luka berlanjut selama
1 tahun atau lebih hingga bekas luka merekat kuat.
4.
Faktor yang Mempengaruhi Luka
a.
Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat
daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan
fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.
b.
Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian
pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C
dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk
memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang
gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah
jaringan adipose tidak adekuat.
c.
Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri
sumber penyebab infeksi.
d.
Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi
penyembuhan luka. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang
memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka
lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama
untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang
yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes
millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau
gangguan pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume darah akan
mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi
untuk penyembuhan luka.
e.
Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali
darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi.
Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk
dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
f.
Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme
akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat.
Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah
merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah
(“Pus”).
g.
Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana
terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari
aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu
ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada
pembuluh darah itu sendiri.
h.
Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan
mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel.
Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
i.
Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi
kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk
menyatu.
j.
Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan
aspirin), heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan
antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a.
Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap
cedera.
b.
Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c.
Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri
penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan
tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
5.
Komplikasi Penyembuhan Luka
Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi,
perdarahan, dehiscence dan eviscerasi.
1.
Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada
saat trauma, selama pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi
sering muncul dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa infeksi
termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di
sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih.
2.
Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan
jahitan, sulit membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh
darah oleh benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat ada
tanda. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering
dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah
itu.Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan luka steril
mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin
diperlukan.
3.
Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi
operasi yang paling serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial
atau total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan.
Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple trauma, gagal
untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi
resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4 –5 hari
setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka. Ketika dehiscence dan
eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar,
kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan
pada daerah luka.
6.
Perkembangan Perawatan Luka
Profesional perawat percaya bahwa penyembuhan
luka yang terbaik adalah dengan membuat lingkungan luka tetap kering (Potter.P,
1998). Perkembangan perawatan luka sejak tahun 1940 hingga tahun 1970, tiga
peneliti telah memulai tentang perawatan luka. Hasilnya menunjukkan bahwa
lingkungan yang lembab lebih baik daripada lingkungan kering. Winter (1962)
mengatakan bahwa laju epitelisasi luka yang ditutup poly-etylen dua kali lebih
cepat daripada luka yang dibiarkan kering. Hasil penelitian ini menyimpulkan
bahwa migrasi epidermal pada luka superficial lebih cepat pada suasana lembab
daripada kering, dan ini merangsang perkembangan balutan luka modern ( Potter.
P, 1998). Perawatan luka lembab tidak meningkatkan infeksi. Pada kenyataannya
tingkat infeksi pada semua jenis balutan lembab adalah 2,5 %, lebih baik
dibanding 9 % pada balutan kering (Thompson. J, 2000).
Rowel (1970) menunjukkan bahwa lingkungan
lembab meningkatkan migrasi sel epitel ke pusat luka dan melapisinya sehingga
luka lebih cepat sembuh. Konsep penyembuhan luka dengan teknik lembab ini
merubah penatalaksanaan luka dan memberikan rangsangan bagi perkembangan
balutan lembab ( Potter. P, 1998).
Penggantian balutan dilakukan sesuai
kebutuhan tidak hanya berdasarkan kebiasaan, melainkan disesuaikan terlebih
dahulu dengan tipe dan jenis luka. Penggunaan antiseptik hanya untuk yang
memerlukan saja karena efek toksinnya terhadap sel sehat. Untuk membersihkan
luka hanya memakai normal saline (Dewi, 1999). Citotoxic agent seperti povidine
iodine, asam asetat, seharusnya tidak secara sering digunakan untuk
membersihkan luka karena dapat menghambat penyembuhan dan mencegah
reepitelisasi. Luka dengan sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan
dengan kassa yang dibasahi dengan sodium klorida dan tidak terlalu banyak
manipulasi gerakan. (Walker. D, 1996)
Tepi luka seharusnya bersih, berdekatan
dengan lapisan sepanjang tepi luka. Tepi luka ditandai dengan kemerahan dan
sedikit bengkak dan hilang kira-kira satu minggu. Kulit menjadi tertutup hingga
normal dan tepi luka menyatu.
Perawat dapat menduga tanda dari penyembuhan
luka bedah insisi :
1.
Tidak ada perdarahan dan munculnya tepi bekuan di tepi luka.
2.
Tepi luka akan didekatkan dan dijepit oleh fibrin dalam bekuan selama
satu atau beberapa jam setelah pembedahan ditutup.
3.
Inflamasi (kemerahan dan bengkak) pada tepi luka selama 1 – 3 hari.
4.
Penurunan inflamasi ketika bekuan mengecil.
5.
Jaringan granulasi mulai mempertemukan daerah luka. Luka bertemu dan
menutup selama 7 – 10 hari. Peningkatan inflamasi digabungkan dengan panas dan
drainase mengindikasikan infeksi luka. Tepi luka tampak meradang dan bengkak.
6.
Pembentukan bekas luka.
7.
Pembentukan kollagen mulai 4 hari setelah perlukan dan berlanjut sampai
6 bulan atau lebih.
8.
Pengecilan ukuran bekas luka lebih satu periode atau setahun. Peningkatan
ukuran bekas luka menunjukkan pembentukan kelloid.
7.
Tujuan Perawatan Luka
1)
Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2)
Absorbsi drainase
3)
Menekan dan imobilisasi luka
4)
Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5)
Mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6)
Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7)
Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien
8.
Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka
·
Sodium Klorida 0,9 %
Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang
ada di seluruh tubuh karena alasan ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari
sodium klorida. Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley &
Aucker, 1999). Sodium klorida atau natrium klorida mempunyai Na dan Cl yang
sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson,
1992). Sodium klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi, yang paling sering
adalah sodium klorida 0,9 %. Ini adalah konsentrasi normal dari sodium klorida
dan untuk alasan ini sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley &
Aucker, 1999). Merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan,
melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar
luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan
harga relatif lebih murah.
·
Larutan povodine-iodine.
Iodine adalah element non metalik yang
tersedia dalam bentuk garam yang dikombinasi dengan bahan lain Walaupun iodine
bahan non metalik iodine berwarna hitam kebiru-biruan, kilau metalik dan bau
yang khas. Iodine hanya larut sedikit di air, tetapi dapat larut secara
keseluruhan dalam alkohol dan larutan sodium iodide encer. Iodide tinture dan
solution keduanya aktif melawan spora tergantung konsentrasi dan waktu
pelaksanaan (Lilley & Aucker, 1999). Larutan ini akan melepaskan iodium
anorganik bila kontak dengan kulit atau selaput lendir sehingga cocok untuk
luka kotor dan terinfeksi bakteri gram positif dan negatif, spora, jamur, dan
protozoa. Bahan ini agak iritan dan alergen serta meninggalkan residu (Sodikin,
2002). Studi menunjukan bahwa antiseptik seperti povodine iodine toxic terhadap
sel (Thompson. J, 2000). Iodine dengan konsentrasi > 3 % dapat memberi rasa
panas pada kulit. Rasa terbakar akan nampak dengan iodine ketika daerah yang
dirawat ditutup dengan balutan oklusif kulit dapat ternoda dan menyebabkan
iritasi dan nyeri pada sisi luka. (Lilley & Aucker, 1999).
9.
Merawat Luka
a.
Pengertian
Merawat luka untuk mencegah trauma (injury)
pada kulit, membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya
trauma, fraktur, luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit.
b.
Tujuan
1.
Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran
mukosa.
2.
Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan.
3.
Mempercepat penyembuhan.
4.
Membersihkan luka dari benda asing atau debris.
5.
Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat.
6.
Mencegah perdarahan.
7.
Mencegah excoriasi kulit sekitar drain.
c.
Persiapan alat
1.
Set steril yang terdiri atas :
a. Pembungkus
b. Kapas atau kasa untuk membersihkan luka
c. Tempat untuk larutan
d. Larutan anti septic
e. 2 pasang pinset
f. Gaas untuk menutup luka.
2. Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti :
extra balutan dan zalf.
3. Gunting
4. Kantong tahan air untuk tempat balutan lama
5. Plester atau alat pengaman balutan
6. Selimut mandi jika perlu, untuk menutup
pasien
7. Bensin untuk mengeluarkan bekas plester
d. Cara kerja
1. Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan
dilakukan. Jawab pertanyaan pasien.
2. Minta bantuan untuk mengganti balutan pada
bayi dan anak kecil.
3. Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4. Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang
menyenangkan. Bukan hanya pada daerah luka, gunakan selimut mandi untuk menutup
pasien jika perlu.
5. Tempatkan tempat sampah pada tempat yang
dapat dijangkau. Bisa dipasang pada sisi tempat tidur.
6. Angkat plester atau pembalut.
7. Jika menggunakan plester angkat dengan cara
menarik dari kulit dengan hati-hati kearah luka. Gunakan bensin untuk
melepaskan jika perlu.
8. Keluarkan balutan atau surgipad dengan
tangan jika balutan kering atau menggunakan sarung tangan jika balutan lembab.
Angkat balutan menjauhi pasien.
9. Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong
plastik.
10. Buka set steril
11. Tempatkan pembungkus steril di samping luka
12. Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan
perhatikan jangan sampai mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. Jika
gaas dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset, satu untuk mengangkat gaas
dan satu untuk memegang drain.
13. Catat jenis drainnya bila ada, banyaknya
jahitan dan keadaan luka.
14. Buang kantong plastik. Untuk menghindari dari
kontaminasi ujung pinset dimasukkan dalam kantong kertas, sesudah memasang
balutan pinset dijauhkan dari daerah steril.
15. Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan
atau arteri dan kapas dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset
ujungnya labih rendah daripada pegangannya. Gunakan satu kapas satu kali
mengoles, bersihkan dari insisi kearah drain :
a. Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi
dan dari tengah keluar
b. Jika ada drain bersihkan sesudah insisi
c. Untuk luka yang tidak teratur seperti
dekubitus ulcer, bersihkan dari tengah luka kearah luar, gunakan pergerakan
melingkar.
16. Ulangi
pembersihan sampai semua drainage terangkat.
17. Olesi
zalf atau powder. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril.
18. Gunakan
satu balutan dengan plester atau pembalut
19. Amankan
balutan dengan plester atau pembalut
20. Bantu
pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan.
21. Angkat
peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor. Bersihkan alat dan
buang sampah dengan baik.
22. Cuci
tangan
23. Laporkan
adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang bertanggung jawab.
Catat penggantian balutan, kaji keadaan luka dan respon pasien.
e. Membersihkan
Daerah Drain
Daerah drain dibersihkan sesudah insisi. Prinsip
membersihkan dari daerah bersih ke daerah yang terkontaminasi karena drainnya
yang basah memudahkan pertumbuhan bakteri dan daerah daerah drain paling banyak
mengalami kontaminasi. Jika letak drain ditengah luka insisi dapat dibersihkan
dari daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Gunakan kapas yang lain.
Kulit sekitar drain harus dibersihkan dengan antiseptik.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Desember 2011. Adapun tempat dilaksanakan penelitian adalah:
a)
Desa Jatibarang Lor Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes sebagai tempat
dilaksanakan pengamatan dan wawancara.
b)
Desa Babakan Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon sebagai tempat
dilaksanakan pengamatan dan wawancara.
c)
STIKes Cirebon sebagai tempat pengolahan data dan studi pustaka.
B. Sampel
Dalam penelitian digunakan sampel penelitian,
yaitu:
a) Penderita luka insisi (Incised wounds) : 5 orang
b) Penderita luka lecet (Abraded Wound) : 5 orang
c) Penderita luka bakar (Combustio) : 5 orang
d) Penderita luka gores (Lacerated Wound) : 5 orang
C. Prosedur Penelitian
1. Studi pustaka (Library Research)
Studi
pustaka dilakukan untuk mengetahui dan memahami tentang klasifikasi, khasiat,
kandungan enzim bromelain dan morfologi tanaman nanas yang meliputi : habitat,
batang, daun, bunga, akar, kulit, dan rhizoma serta menjelaskan tentang
pengertian luka, janis-jenis, fase penyembuhan dll
2.
Metode Wawancara
(interview)
Yaitu
dengan mengadakan wawancara kepada para informan yang telah ditentukan untuk
mengetahui dan memahami tentang penggunaan kulit nanas yang mengandung enzim
bromelain dalam menyembuhkan penyakit secara empiris di masyarakat.
3.
Observasi
Pengamatan di lapangan dilakukan secara langsung.
Faktor-faktor yang di amati adalah
jangka waktu penyembuhan untuk
tiap penyakit.
D. Alat
dan Bahan
1. Set steril yang terdiri atas :
a. Pembungkus
b. Kapas atau kasa untuk membersihkan luka
c. Tempat untuk larutan
d. Larutan anti septic
e. 2 pasang pinset
2.
Kulit nanas : Secukupnya
3.
Air : 500 ml
4.
Cobek : 1 buah
5. Baskom : 1 buah
6.
Handuk mandi : 1 buah
E. Cara
Kerja
1.
Menyiapkan alat dan bahan penelitian.
2.
Menjelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jawab
pertanyaan pasien.
3.
Menjaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4.
Bantu penderita untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bukan hanya
pada daerah luka, menggunakan selimut mandi untuk menutup penderita.
5.
Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Bisa dipasang
pada sisi tempat tidur.
6.
Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas
dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset ujungnya labih rendah
daripada pegangannya. Gunakan satu kapas satu kali mengoles, bersihkan dari insisi
kearah drain :
a.
Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar.
b.
Jika ada drain bersihkan sesudah insisi.
c.
Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer, bersihkan dari
tengah luka kearah luar, gunakan pergerakan melingkar.
7.
Mencuci kulit nanas.
8.
Menumbuk halus kulit nanas.
9.
Membalurkan pada luka yang terbakar dengan ramuan tersebut.
10. Merapikan ramuan kulit nanas yang dibalurkan
pada luka.
11. Mencuci tangan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Ekstrak atau Penumbukan
Proses
penumbukan ini dilakukan untuk mempermudah pekerjaan dalam pemperhalus tekstur dari kulit nanas. Pembuatan ramuan
dari kulit nanas yang mengandung enzim bromelain sama halnya seperti ramuan herbal yang lain.
Pembuatan ramuan yang masih tradisional akan menghindari dari percampuran zat
–zat kimia yang sebenarnya tanpa kita sadari merugikan organ dalam tubuh kita.
B. Enzim Bromelain pada Kulit Nanas dapat Mengobati Luka.
Dari hasil penelitian enzim bromelain pada
kulit nanas memiliki khasiat penyembuhan yang efektif seperti obat kimia. Dalam
penyakit luka luar yang telah kami teliti, responden menyatakan bahwa
penyembuhannya berlangsung cukup singkat yaitu antara 1-4 minggu. Dalam hal ini
keefektifannya telah menyamai obat kimia yang biasa di konsumsi oleh
masyarakat.
C. Jangka Waktu Penyembuhan
Dari hasil pengujian jangka waktu
penyembuhannya, didapatkan hasil dari seluruh responden yang ada menyatakan bahwa alternative herbal
enzim bromelain pada kulit nanas benar memiliki kefektifan dalam penyembuhan
terutama terhadap penyembuhan luka luar.
D. Variasi yang Paling Cepat Masa Penyembuhan
|
No
|
Nama Responden
|
Luka yang diderita
|
Lama penyembuhan
|
|
2
|
Sutejo
|
Luka insisi
|
29 hari
|
|
2
|
Andre
|
Luka insisi
|
27 hari
|
|
3
|
Muthiah
|
Luka insisi
|
30 hari
|
|
4
|
Rizal
|
Luka insisi
|
25 hari
|
|
5
|
Fatikhi
|
Luka insisi
|
28 hari
|
|
6
|
Nur Hayati
|
Luka lecet
|
3 hari
|
|
7
|
Dadang
|
Luka lecet
|
2 hari
|
|
8
|
Anik
|
Luke lecet
|
3 hari
|
|
9
|
Lesi
|
Luka lecet
|
3 hari
|
|
10
|
Warjono
|
Luka lecet
|
2 hari
|
|
11
|
Hendro
|
Luka gores
|
4 hari
|
|
12
|
Slamet
|
Luka gores
|
5 hari
|
|
13
|
Sunarmi
|
Luka gores
|
5 hari
|
|
14
|
Trisnawati
|
Luka gores
|
6 hari
|
|
15
|
Akmad
|
Luka gores
|
5 hari
|
|
16
|
Dedi
|
Luka bakar
|
11 hari
|
|
17
|
Revan
|
Luka bakar
|
12 hari
|
|
18
|
Agung
|
Luka bakar
|
10 hari
|
|
19
|
Musfik
|
Luka bakar
|
14 hari
|
|
20
|
Dian
|
Luka bakar
|
13 hari
|
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Kulit nanas yang dianggap
sampah oleh sebagian masyarakat ternyata dapat dimanfaatkan, yang salah satunya
adalah sebagain alternatif obat luka luar karena mengandung enzim bromelain.
2.
Kulit nanas yang mengandung
enzim bromelain dapat dijadikan obat herbal yaitu obat luka
luar yang tidak menyertakan efek samping yang berarti. Dari hasil pengujian jangka waktu penyembuhannya, didapatkan
hasil dari seluruh responden yang ada menyatakan bahwa alternative herbal enzim bromelain
pada kulit pisang benar
memiliki keefektifan
dalam penyembuhan terutama terhadap penyembuhan luka luar.
B. Saran
1.
Perlu
diadakan penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan limbah berupa kulit
nanas, sehingga limbah tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
2.
Perlu
diteliti lebih lanjut mengenai zat yang terkandung didalam kulit
nanas.
3.
Perlu adanya publikasi ke masyarakat luas mengenai
hasil-hasil penelitian tepat guna.
DAFTAR PUSTAKA
Afif HM, dkk. 2006. Bunga Rampai Karya Tulis
Ilmiah Siswa Madrasah Aliyah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama.
Anbiya, Fatya Permata.2010.Panduan EYD dan
Tata Bahasa Indonesia.Jakarta: Transmedia Pustaka.
Arisandi, Yohana.2008.
Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah.
Hariana, Arief. 2009.
Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 3. Jakarta: Penebar Swdaya.
http://cholidalfayed.blogspot.com/2011/12/beberapa-manfaat-nanas-bagi-kesehatn.html-
Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Nanas- Dikunjungi pada tanggal 20
Desember 2011
http://rocky16amelungi.wordpress.com/Sejarah,Klasifikasi Dan
Morfologi Nanas/ Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011-12-24
http://translate.google.co.id/
http://en.wikipedia.org/wiki/Bromelain- Dikunjungi pada tanggal 17 Desember
2011
http://www.google.com/Ismail,S.Kep, Ns,
M.Kes/ Luka dan Perawatannya- Dikunjungi pada tanggal 17 Desember 2011
Lembaga Penelitian
Pengembangan dan Pemberdayaan Lingkungan. 2000. Pemanfaatan tumbuh-tumbuhan
alami untuk Kesehatan dan Pengobatan Alternatif. Kendal: LP3L Jaya Madani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar